Harga Kopi di Sumsel Anjlok 55%

Harga Kopi di Sumsel Anjlok 55%

- detikFinance
Selasa, 25 Mar 2008 17:15 WIB
Palembang - Para petani kopi di Sumatera Selatan yang sebelumnya menikmati keuntungan, kini harus gigit jari. Harga kopi anjlok hingga 55% dari kisaran Rp 22.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram.
Β 
Para petani di Pagaralam dan Empat Lawang, yang merupakan sentra produksi kopi di Sumatera Selatan pun urung menjual kopinya. Β 
Β 
Penurunan harga kopi ini terjadi secara bertahan. Awalnya, harga kopi dari Rp 22.000, lantas turun menjadi Rp16.000 dan terus turun menjadi Rp 14.000, sebelum kini menjadi Rp 9.000 per kilogram.
Β 
Johan, salah seorang agen kopi di Pasar 16 Ilir, kepada detikFinance, Selasa (25/03/2008), mengatakan, turunnya harga kopi bukan permainan yang dilakukan oleh agen kopi. Tetapi lebih dikarenakan harga kopi dunia turun, ditambah lagi dengan kopi yang beredar di pasaran bukan kopi dengan kualitas bagus, atau kopi musim,melainkan kopi selang atau buah pangkal.

"Menurut kebiasaan, harga kopi pada awal panen akan mengalami penurunan. Tetapi sekitar Oktober dan November harga kopi akan kembali stabil," kata Johan.
Β 
Mengenai lonjakan harga hingga Rp 22.000, menurut dia hal itu disebabkan karena pasokan kopi dari negara lain sangat rendah.

"Kita berharap harga (kopi) tidak turun lagi, dan kopi tetap dijual pada harga standar yaitu kisaran Rp14 ribu per kilogram untuk kopi kualitas musim," katanya.
Β 
Pabrik Kopi

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait dengan kualitas kopi di Sumatera Selatan seperti di kabupaten Empat Lawang yang masih rendah, dalam waktu dekat di daerah itu bakal dibangun pabrik sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani kopi.

"Kabupaten Empat Lawang sebagai daerah penghasil kopi terbesar tidak memberi penghasilan yang baik bagi petani, karena mereka menjemur kopi di pinggir jalan sehingga pecah-pecah dan kualitasnya rendah," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel, Abdul Shobur, di kantornya Jalan Jenderal Sudirman, Palembang.

Menurut dia, selain itu yang menentukan harga kopi tersebut adalah para pembeli bukan penjual sehingga yang sejahtera justru para pembeli atau toke-toke kopi.

Sehubungan dengan hal itu maka diharapkan ke depan tingkat kesejahteraan para petani kopi di daerah tersebut bisa ditingkatkan dengan dibangunnya pabrik kopi.

Guna membangun pabrik kopi itu sudah dianggarkan dalam APBD Sumsel pada tahun 2008 dengan dana sebesar Rp300 juta. Anggaran itu sekarang ini sudah mulai diproses sesuai dengan mekanisme yang berlaku dan kalau itu telah rampung maka pembangunannya segera dilaksanakan.

(tw/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads