Anjloknya harga karet ini dipicu oleh musim hujan yang dapat menyusutkan karet hingga 70 persen.
Menurut Iskandar (40), petani karet di Prabumulih, Sumatra Selatan, kepada detikFinance, di rumah keluarganya di kawasan Sekojo, Palembang, Rabu (26/03/2008), penurunan harga karet ini berlangsung selama sepekan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat turunnya harga karet, kehidupan para petani kian menjadi sulit, sebab kebutuhan bahan pokok terus mengalami kenaikan, seperti minyak goreng, beras, maupun lainnya. "Ya, kami ini sekarang hanya cukup makan, dan tidak dapat menabung," ujarnya.
Sebagai informasi, selain kopi, karet merupakan hasil perkebunan para petani di Sumsel yang diandalkan sejak masa kolonial Belanda. Besarnya produksi karet ini menyebabkan Palembang menjadi salah satu kota di dunia yang selamat dari tidak mengalami krisis ekonomi tahun 1930-an, bahkan meraup keuntungan lantaran besarnya produksi karet. Saat krisis moneter di Indonesia tahun 19987-1998, para petani Sumsel justru meraup keuntungan akibat melonjaknya harga kopi dan karet.
(tw/qom)











































