"Kita harus menghitung betul, karena pangan kita tergantung beras. Kelebihan produksi beras kita saat ini hanya kurang dari stok satu bulan," ujar Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimuso, dalam diskusi radio bertajuk 'Bingung di Lumbung Beras', di Jakarta, Sabtu (29/3/2008).
Tarto menjelaskan, pada musim raya Maret-Mei mendatang diperkirakan akan terdapat surplus sekitar 1,3 juta ton. Sementara batas aman cadangan beras nasional saat ini sudah dinaikkan dari tahun sebelumnya yang hanya 1 juta ton menjadi 2 juta ton per bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya kita harus pikirkan cadangan pangan bukan hanya setahun, tapi dua tahun ke depan," sambungnya.
Pada kesempatan yang sama anggota Komite Pangan HKTI, Rachmad Badjuri, mengaku dapat memahami alasan di atas sehingga pemerintah belum juga mengeluarkan izin ekspor beras. Meski dirinya sangat menyayangkan momentum kenaikan harga pangan dunia yang belum dinikmati petani Indonesia.
Maka sebagai kompensasi untuk peningkatan kesejahteraan petani, ia berharap agar pemerintah menaikkan HPP beras (harga pembelian pemerintah) demi mengamankan harga jual beras di tingkat petani. Sehingga bukan saja kebutuhan cadangan nasional terpenuhi, tapi juga kesejahteraan petani ditingkatkan.
"Kita sudah dua kali minta pemerintah menaikkan HPP. Sebab biaya produksi dan ongkos buruh. Kalau pemasukan petani masih segitu-gitu juga, sama saja membunuh kami pelan-pelan," ujar Badjuri. (lh/ir)











































