Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang dalam acara rapat koordinasi pangan nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, bertajuk 'Ketahanan pangan untuk kesejahteraan masyarakat', di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (29/3/2008).
"Bahkan FAO tadi mengatakan bahwa kedepannya harga pangan tidak akan turun, kalau pun turun tidak akan kembali turun pada harga 10 tahun lalu, bahwa harga pangan turun itu mimpi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun katanya harga tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan harga pada akhir Februari 2008 lalu yang sempat tembus US$ 800 per ton.
Ia juga menambahkan bahwa sekarang ini hampir semua negara-negara produsen komoditi pangan menerapkan kebijakan fiskal untuk membatasi ekspor. Sehingga kata Franky, sulit memperkirakan harga pangan akan turun, termasuk terigu.
"Sekarang yang menjadi solusinya adalah perbanyak produksi sebanyak-banyaknya, termasuk melakukan diversifikasi pangan," serunya.
Khusus untuk terigu, ia menghimbau kepada para produsen untuk segera mengembangkan bahan baku terigu alternatif termasuk memakai pendekatan terigu campuran (komposit).
"Silahkan saja produsen kembangkan ini, kalau kita sendiri (Bogasari) yang kembangkan nanti dikira kita monopoli," seru Franky.
(hen/ir)











































