HKTI Tidak Restui Ekspor Beras

HKTI Tidak Restui Ekspor Beras

- detikFinance
Sabtu, 29 Mar 2008 14:40 WIB
Jakarta - Langkah bijak tindaklanjuti kelebihan produksi beras hasil panen raya kali ini adalah dengan bijak mengelolanya untuk mengamankan cadangan pangan nasional. Bukan menjualnya ke luar negeri terkait meroketnya harga pangan internasional.

Demikian dikatakan anggota Komite Pangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Rachmad Badjuri, dalam diskusi radio bertajuk 'Bingung di Lumbung Beras', di Jakarta, Sabtu (29/3/2008).

"Kelola buffer stock dengan sebaik-baiknya. Kalau buffer stock terjamin, HPP aman. Kalau buffer stock anjlok, maka pemerintah import beras dan petani tersakiti," ujar dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasar riset BPS, sebanyak 65% produksi beras nasional berasal dari masa musim raya yang berlangsung antara Maret-Mei. Kemudian mulai menurun saat memasuki bulan Juni-Agustus hingga puncaknya adalah musim paceklik mulai Oktober sampai Januari.

Pada musim paceklik itulah, petani akan menghadapi situasi yang sulit. Di saat harga beras tinggi akibat tingginya permintaan pasar, pihak yang mendapatkan manfaat adalah pedangan besar dan bukannya petani selaku produsen.

"Sekarang jangan sampai HPP jatuh. Segera naikkan karena biaya produksi petani juga naik," sambungnya.

Anggota Komisi IV DPR, Sarjan Taher, mendukung pandangan HKTI di atas. Kelebihan produksi beras lebih baik prioritasnya pemanfaatannya menjaga cadangan pangan nasional ketika musim paceklik tiba tidak berbalik merugikan para petani kecil.

"Kalau mau ekspor, syaratnya adalah amankan dulu stok pangan dan harga beli di petani. Kalau di petani aman, mau ekspor terserah. Kalau tidak, biar harga luar negeri tinggi, petani tetap sengsara," ujar fungsionaris Partai Demokrat ini.

(lh/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads