Krisis Finansial AS Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Asia

Krisis Finansial AS Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Asia

- detikFinance
Selasa, 01 Apr 2008 14:51 WIB
Krisis Finansial AS Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Asia
Jakarta - Krisis finansial di AS dan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia menurunkan pertumbuhan ekonomi Asia Timur sekitar 1-2% menjadi 8,5% di tahun 2008.

Demikian review Bank Dunia atas negara-negara Asia Pasifik untuk 6 bulan terakhir dan dirilis Selasa (1/4/2008).

Meski ada penurunan, namun Bank Dunia masih melihat pertumbuhan yang sehat di kawasan tersebut, bahkan beberapa diantaranya tetap mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena investasi yang mereka buat dalam 10 tahun terakhir di bidang reformasi struktural dan juga menempatkan kebijakan makro ekonomi secara tepat," demikian bunyi laporan Bank Dunia tersebut.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa negara-negara Asia Timur masih meneruskan pertumbuhan aktivitas ekonomi yang kuat selama tahun 2007 hingga awal 2008. Hal itu terjadi ditengah melemahnya permintaan dari AS dan meningkatnya gejolak pasar finansial.
Sementara China yang pertumbuhannya diperkirakan melemah dari 11,4% di tahun 2007 menjadi 9,4% di 2008 akan tetap kuat karena meningkatnya investasi domestik dan pertumbuhan konsumsi.

Khusus untuk Indonesia, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir yakni sebesar 6,3%, terutama karena meningkatnya investasi swasta dan konsumsi.

"Permintaan domestik sekarang ini memainkan peranan yang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur," ujar Vikram Nehru, kepala ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik.

"Asia Timur juga telah mampu mendiversifikasi pasar ekspornya, sehingga meski ada penurunan yang signifikan dari permintaan AS, Asia Timur masih tetap mampu mengkompensasinya dengan ekspor yang lebih besar ke Eropa dan negara berkembang lainnya," imbuhnya.

Namun laporan itu tetap memperingkatkan bahwa tantangan utama bagi pemerintahan adalah efek inflasi dari melonjaknya harga makanan dan BBM, terutama dampaknya bagi kaum miskin.

"Kami telah melihat bahwa pendapatan masyarakat miskin di desa dan wilayah kota turun secara substansial karena melonjaknya harga bahan makanan," ujar Jim Adams, Vice Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik.
(qom/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads