Namun jika hal itu harus terjadi, maka penggantinya kelak harus punya kualifikasi setara. Siapa kira-kira yang bisa menjadi 'kembaran' Boediono?
Hal itu mencuat dalam hasil rapat kecil di Kantor KBRI di Dakar, Senegal disela-sela kunjungan Presiden SBY pada 13 Maret 2008 lalu. Rapat yang dipimpin Presiden SBY dan 'dihadiri' Wapres JK itu menindaklanjuti putusan pleno DPR menolak Agus Martowardoyo dan Raden Pardede sebagai cagub BI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada beberapa kualifikasi Boediono yang bagi SBY wajib dipunyai menko perekonomian baru. Yaitu kredibel, berasal dari kalangan akademik, punya kemampuan memimpin, non-partisan, kapabilitasnya disegani, diterima pasar dan cepat beradaptasi dengan kabinet.
Setelah menelepon ke beberapa pihak di Tanah Air, diperoleh dua kandidat yang paling mendekati kualifikasi Boediono. Keduanya adalah ekonom dari UGM dan UI, yang masing-masing saat ini sedang berkiprah di Indonesia dan Amerika.
Setelah dilakukan 'audisi', kandidat dari UI dinilai kurang memenuhi syarat. Karena sudah cukup lama berada di AS, maka yang kandidat ini tidak cukup dikenal dan dapat diterima pasar usaha dan masyarakat di dalam negeri.
Kandidat asal UGM yang merupakan anak didik langsung Boediono bernasib sama. Presiden SBY meragukannya mampu beradaptasi secara cepat dan tepat dengan visi yang selama ini dikembangkan tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu.
"Terutama nanti untuk bekerjasama dengan Bu Menkeu," ujar si Sumber.
Sempat pula kala itu muncul ide, agar menkeu yang 'naik pangkat' duduk di pos menko perekonomian. Tapi presiden berpandangan pos fiskal paling tepat bagi Sri Mulyani dan sudah banyak prestasi yang menjadi buktinya.
Kini presiden sudah mengikhlaskan Boediono menjadi cagub BI. Itu artinya SBY sudah mempunyai kandidat pas calon menko perekonomian atau malah 'kembaran' Boediono.
Siapa dia?
(lh/qom)











































