Ekonomi RI Melambat 2 Tahun Lagi

Ekonomi RI Melambat 2 Tahun Lagi

- detikFinance
Rabu, 02 Apr 2008 10:14 WIB
Jakarta - Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah didera krisis keuangan tahun 1997 silam. Namun dua tahun kedepan, perekonomian Indonesia akan melambat.

Demikian laporan utama Asian Development Bank (ADB). Laporan tahunan utama ADB mengenai ekonomi, Asian Development Outlook 2008 (Perkiraan Perkembangan Ekonomi Asia 2008/ADO) yang dirilis, Rabu (2/4/2008).

Senada dengan Bank Dunia, ADB juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 sebesar 6%. Pertumbuhan akan meningkat menjadi 6,2% di tahun 2009. Angka pertumbuhan itu berarti lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 yang sebesar 6,3%,Β  atau merupakan yang tertinggi sejak krisis 10 tahun silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADB menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan didorong terutama oleh konsumsi rumah tangga, dibantu oleh dampak dari penurunan suku bunga. Investasi swasta juga kemungkinan akan meningkat sebagai respons atas menurunnya tingkat suku bunga dan membaiknya iklim investasi.

Namun peningkatan ini menurut ADB kemungkinan sebagian akan tertutup oleh pelemahan/kontraksi pada net ekspor. Pada saat yang bersamaan, pertumbuhan investasi sektor publik serta belanja pembangunan yang sangat dibutuhkan kemungkinan akan tetap terbatas oleh meningkatnya pengeluaran untuk subsidi.

Untuk tingkat inflasi, ADB memperkirakan pada tahun 2008 akan mencapai 6,8%. Angka itu lebih tinggi dari tahun 2007 yang mencapai 6,4%. Inflasi yang lebih tinggi itu karena meningkatnya permintaan dalam negeri dan tingginya harga bahan pangan di tingkat global. Angka inflasi akan turun menjadi 6,5% pada tahun 2009 karena turunnya harga pangan dunia.

Pertumbuhan ekspor diperkirakan akan lebih lambat pada 2008-2009 karena melemahnya permintaan global dan sedikit menurunnya harga komoditi internasional.

Meski sekitar 50% dari ekspor non minyak dan gas Indonesia ditujukan untuk pasar Asia diluar Jepang, penurunan ekonomi di negara-negara industri utama juga secara tidak langsung akan merugikan ekspor karena sebagian besar terdiri dari produk-produk antara untuk menjadi produk akhir yang nantinya akan diekspor ke pasar di negara-negara industri. Namun pertumbuhan impor diperkirakan akan tetap tinggi karena meningkatnya permintaan dalam negeri.

Perkembangan-perkembangan dalam bidang perdagangan ini kemungkinan akan berbarengan dengan meningkatnya defisit dalam neraca penerimaan dan jasa. Sebagai akibatnya, surplus neraca berjalan akan turun menjadi 1,9% pada tahun 2008 dan 1,6% pada tahun 2009. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads