"Tahun ini kan masih berjalan 3 bulan jadi kita masih optimis pertumbuhan 6,4 persen bisa tercapai," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito AbimanyuΒ saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/4/2008).
Pada akhir semester I-2008 pemerintah akan melaporkan bagaimana realisasi APBN pemerintah pada kuartal I-2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dilaporkan realisasi kuartal I-2008," katanya.
Sebelumnya baik Bank Pembangunan Asia dan Bank Dunia melaporkan, pertumbuhan Indonesia akan melambat menjadi 6 persen pada tahun ini. Gejolak ekonomi dunia dan harga pangan menjadi faktor perlambatan ekonomi di Indonesia.
Pada kesempatan terpisah, Anggota Komisi XI DPR Drajad Wibowo mengatakan asumsi yang
disepakati untuk RAPBN P 2008 tidak realistis dengan situasi yang terjadi.
"Inflasi 6,5 persen sulit tercapai, saya juga setuju dengan laporan ADB jadi sulit
untuk capai pertumbuhan di atas 6 persen," ujarnya.
Untuk asumsi SBI 3 bulan sebesar 7,5 persen juga sulit dicapai dengan kondisi nilai
tukar yang seperti sekarang.
"Defisit dinaikkan menjadi sebesar 2,1 persen di RAPBN P 2008 juga agak gegabah,
beban penerbitan SUN jadi meningkat, kalau saya jadi investor, saya akan memainkan
nilai tukar rupiah, sekarang saja yield dalam lelang SUN juga sudah tinggi,"
tuturnya.
Panitia Anggaran DPR dan pemerintah sudah menyepakati asumsi dasar untuk APBN P 2008. Untuk pertumbuhan ekonomi disepakati 6,4 persen turun dari APBN 2008 yang sebesar 6,8 persen.
Untuk inflasi disepakati 6,5 persen atau naik dari 6 persen di APBN 2008. Lalu nilai tukar rupiah disepakati Rp 9.100/US$. Untuk suku bunga SBI 3 bulan disepakati 7,5 persen, harga minyak US$ 95 per barel. Dan untuk lifting disepakati 927.000 barel per hari.
(dnl/ddn)











































