Lia, warga Parung, Bogor, akhirnya tak berhasil mendapatkan elpiji. Setelah berputar-putar, ia tak berhasil mendapatkan elpiji. Menurut distributor yang ditemui Lia, kelangkaan elpiji terjadi karena warga yang semula menggunakan minyak tanah kini sudah beralih ke elpiji.
Sementara di Surabaya, antrean elpiji di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kembali terjadi. Masyarakat rela mengantre sejak pagi tadi untuk mendapatkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Daripada tidak dapat elpiji lebih baik saya menunggu lebih pagi," ucap Imam, warga Gubeng saat ditemui detikFinance di SPBU Jalan Nias, Kamis (3/4/2008).
Maklum saja Imam dan puluhan orang lainnya sengaja menunggu lebih pagi karena, jatah yang diberikan oleh SPBU hanya 70 tabung. Padahal antrean sudah panjang. Jika tidak menunggu dan antre lebih pagi, bisa-bisa tidak mendapat elpiji.
Yulia, salah satu warga Manyar yang juga ikut mengantre elpiji menuturkan, sudah mengantre sejak pukul 08.00 WIB. Siang sedikit saja tidak bakal mendapatkan elpiji.
"Jika datang lebih pagi, lebih baik karena bisa mendapatkan elpiji. Kesiangan sedikit saja bisa tidak dapat," ungkapnya.
Jika tidak dapat elpiji, kebutuhan makan sehari-hari bisa terganggu. "Dapur saya terganggu. Kompor saya menggunakan elpiji. Kalau tidak ada elpiji bagaimana nanti saya bisa memasak untuk makan," ucapnya.
Sementara penyuplai elpiji di SPBU Jalan Nias, Imam Taufik menyatakan tiap hari SPBU hanya disuplai 70 tabung. Dirinya menerapkan kebijakan 1 orang 1 tabung.
"Harga tidak naik. Tetap Rp 51 ribu per tabung berukuran 12 kilo. Tiap hari saya dijatah 70 tabung saja," katanya.
(stv/qom)











































