Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kelebihan suplai produksi gula rafinasi saat memasuki musim giling dan juga untuk menekan merembesnya gula rafinasi ke pasar umum.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Agri Melvin Korompis saat dihubungi detikFinance, Kamis (3/4/2008).
"Ada 4 produsen yang sudah mengurangi produksi dari 100% menjadi 80%, dari target produksi kita 1,7 juta ton, akan susut menjadi 1,5 juta ton," katanya.
Namun Melvin menekankan bahwa upaya dari produsen gula rafinasi ini akan sia-sia karena menurutnya dalam waktu tiga bulan kedepan akan berdiri 2 pabrik baru yang tentunya akan menambah suplai gula rafinasi dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menambahkan seharusnya pemerintah bisa memberikan batasan izin pabrik baru gula rafinasi, tetapi Melvin mengamini kalau hal ini tentunya akan memberikan persepsi negatif bagi para produsen gula rafinasi yang lama terkait tuduhan monopoli.
Melvin juga memberikan alasan lain yang memberi peluang kelebihan suplai terutama mengenai ijin impor rafinasi.
"Industri makanan dan minuman lebih memilih impor kalau memang harga di luar lebih murah, saya sih menghendaki agar harga di luar lebih tinggi," ungkapnya.
Hingga kini harga gula rafinasi dalam negeri mencapai Rp 5.250 per kg. "Sekarang ini harga di dalam negeri sedikit lebih tinggi dari harga di luar negeri," paparnya.
(hen/ddn)











































