Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian Boediono di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/4/2008).
"Itu soal hitungan. Semua punya asumsi, mereka punya asumsi, kita juga. Kadangkala nggak sama. Jadi wajar hitungannya beda," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu mereka. Kita punya hitungan sendiri yang kita lihat cukup baik. Kalau kerja kita cukup baik, target 2008 akan dekat dengan sasaran. Insya Allah," ujar Boediono yakin.
Mengenai faktor konsumsi yang selalu menjadi andalan dalam ekonomi, menurut Boediono itu adalah hal yang wajar di negara berkembang seperti Indonesia.
"Konsumsi itu di negara berkembang selalu porsi terbesar PDB dan demand. Jadi itu selalu gitu. Kalau ini bisa kita pertahankan lebih baik. Yang naik turunnya paling cepat itu ekspor dan investasi," ujarnya.
Mengenai inflasi, Boediono mengakui bahwa inflasi di negara-negara Asia akan lebih tinggi. Semua negara terkena dampak dari kenaikan harga minyak dan harga komoditas pangan.
"Inflasi itu kan di atas 8 persen. Negara Asia lain juga di atas 8 persen. Itu memang semua begitu. Kita kena imbas dari luar yang sulit kita tekan, yaitu harga pangan dan minyak itu. Kita juga harus melihat perbandingannya dengan negara lain juga. Tapi kita juga harus lakukan hal yang lebih baik lagi," ujarnya.
(ddn/ir)










































