Dengan bibit yang lebih banyak, pemerintah berharap bisa menghasilkan panen yang lebih besar dari sebelumnya.
Hal itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla dihadapan para petani sebelum melakukan panen raya padi di Dusun Niten, Desa Trirenggo Kabupaten Bantul, Senin (7/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam acara itu Jusuf Kalla didampingi Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri PU Djoko Kirmanto, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Bupati Bantul Idham Samawi.
Pemerintah berjanji akan terus memberikan bantuan bibit yang ditujukan untuk meningkatkan produktifitas, disamping bantuan pembangunan sarana irigasi.
Dia mengharapkan adanya bibit yang bisa menghasilkan lebih baik. Dibanyak tempat sudah ada yang menghasilkan 8 hingga 9 ton per hektar bahkan ada 12 dari bibit hibrida.
Pemerintah, kata Wapres, juga akan memberikan subsidi pupuk. Diakui Wapres, subsidi pupuk yang diberikan nilainya lebih kecil dibandingkan subsidi minyak tanah kepada rakyat. Subsidi pupuk seluruh Indonesia hanya mencapai Rp 10 triliun. Sedang subsidi minyak tanah nilainya lebih dari Rp 100 triliun.
"Subsidi pupuk hanya Rp 10 triliun. Itu belum apa-apa dibanding subsidi minyak tanah yang nilainya lebih Rp 100 triliun," kata dia.
Kalla mengatakan pemerintah sejak dulu telah memberikan subsidi pembelian pupuk kepad petani. Sebab bila pupuk tetap dijual dengan harga seperti yang ditetapkan pabrik, petani tidak akan mampu. Harga pupuk asli seharga Rp 3.500/kg tapi oleh pemerintah dijualnya Rp 1.100/kg.
"Jadi tiap kilo pemerintah subsidi lebih kurang Rp 2.400. Subsidi pupuk seluruh Indonesia mencapai Rp 10 triliun," katanya.
Dengan semua bantuan pemerintah itu, diharapkan Indonesia bisa mencapai lagi swasembada pangan seperti yang pernah dicapai di era pemerintahan presiden Soeharto.
"Kita pernah swasembada pangan beberapa tahun saat jamannya Pak Harto. Itupun tentu dengan kerja keras petani kita. Insya Allah kita akan lebih swasembada daripada sebelumnya," kata Kalla.
(bgs/qom)










































