Sekretaris Tim Nasional Bahan Bakar Nabati Evita Legowo menjelaskan, ini adalah kedua kalinya Pertamina menurunkan kandungan biodiesel karena alasan harga biodiesel yang lebih tinggi dari bahan bakar minyak.
"Awalnya pada 20 Mei 2006 kan 5%, lalu pada 1 April 2007 diturunkan menjadi 2,5%. Sekarang mau diturunkan lagi menjadi 1%," katanya usai menjalani fit and proper test Kepala BP Migas di Komisi VII, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (7/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa diakui Kepala Divisi Komunikasi Pertamina Wisnuntoro ketika dihubungi wartawan. Baginya, harga biodiesel yang tinggi membuat kandungan nabati di Biosolar menjadi tidak ekonomis.
"Mudah-mudahan bulan depan. Karena memang pertimbangan kami adalah harga biodiesel yang saat ini sangat tinggi, menjadi tidak ekonomis," katanya.
Kandungan BBN dalam setiap produk Pertamina memang tidak termasuk dalam subsidi pemerintah, tetapi ditanggung Pertamina sebagai korporat. Karena itu, sebagai BUMN yang diminta mencari laba, Pertamina berusaha menekan kerugian-kerugiannya.
"Memang kalau pakai BBN aspek lingkungannya dapat. Tetapi kita mau mengejar lingkungan atau ekonominya? Kalau yang sudah maju mungkin bisa," katanya.
(lih/ddn)











































