Hal itu diungkapkan tim peneliti ekonomi Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Ameriza M. Moesa kepada wartawan dalam "Diseminasi Hasil Asesmen Perekonomian DIY Triwulan I/2008 di Tembi, Desa Timbulharjo, Sewon Bantul, Selasa (8/4/2008).
"Triwulan I ini memang tumbuh cepat karena didorong sektor pertanian yang telah masuk masa panen raya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan kata lain, inflasi di Yogya pada triwulan I dapat terselamatkan oleh booming pertanian," kata Ameriza didampingi deputi pimpinan BI Yogyakarta, Pranoto.
Dia menambahkan sektor jasa pariwisata seperti perdagangan, hotel dan restoran juga mempunyai andil penyumbang terbesar kedua percepatan ekonomi di DIY sebesar 1,78 persen dengan pertumbuhan 8,56 persen (yoy). Libur panjang hari raya seperti Nyepi, Maulid Nabi dan paskah mendapat respons positif wisatawan asing dan domestik untuk datang ke Yogyakarta.
"Pembukaan rute penerbangan internasional Yogya-Kuala Lumpur juga mendapat respons positif pasar," katanya.
Meski dua sektor yang mengalami pertumbuhan positif kata dia, sektor penggalian dan bangunan justru kinerjanya melambat masing-masing -5,89 persen (yoy) dan -2,18 persen (yoy). Hal ini disebabkan telah selesainya restrukurisasi dan rehabilitasi pasca gempa dan belum berjalannya sebagian besar proyek-proyek prasarana fisik pemerintah.
"Saat ini belum ada proyek pemerintah yang jalan dan masih musim penghujan sehingga belum banyak warga yang membangun rumah," pungkas dia.
(bgs/qom)











































