"Tempe inflasinya sebesar 49,89 persen (qtq), sedangkan tahu mentah sebesar 41,15 persen (qtq)," kata tim peneliti ekonomi moneter Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Ameriza M. Moesa.
Ia menyampaikan hal itu dalam "Diseminasi Hasil Asesmen Perekonomian DIY Triwulan I/2008 di Tembi, Desa Timbulharjo, Sewon Bantul, Selasa (8/4/2008).
Menurut Ameriza, penyebab kedua bahan makanan menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kota Yogyakarta karena selama akhir tahun 2007 hingga awal 2008, harga bahan baku tempe dan tahu mengalami kenaikan harga kedelai yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komoditas lain yang punya andil kedua terbesar dalam pembentukan inflasi setelah tempe dan tahu adalah perhiasan emas. Sedang yang ketiga adalah minyak goreng. Perhiasan emas dengan andil sebesar 0,25 persen dengan inflasi 19,16 persen. Minyak goreng dengan andil 0,19 dengan inflasi 14,68 persen.
Pada triwulan IV/2007, komoditas emas perhiasan memiliki andil ketiga terbesar yakni 0,19 persen. Peningkatan harga emas ini mengikuti kenaikan harga minyak internasional dan emas internasional yang saat ini sudah mencapai Rp 260 ribu/gram untuk kadar 99,9 persen.
"Selain tahu dan tempe, komoditas bahan makanan lain yang mengalami inflasi cukup besar adalah cabe rawit sebesar 97,59 persen dengan andil 0,11 persen," katanya.
Menurut dia, berdasarkan kelompok barang dan jasa, penyumbang utama inflasi triwulan I/2008 berasal dari kelompok bahan makanan dengan andil sebesar 1,48 persen diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,45 persen.
"Tempe dan tahu mentah menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi triwulanan dari kelompok bahan makanan," kata Ameriza.
(bgs/qom)











































