Produsen Makanan Minuman Rentangkan Sayap ke Benua Hitam

Produsen Makanan Minuman Rentangkan Sayap ke Benua Hitam

- detikFinance
Rabu, 09 Apr 2008 13:17 WIB
Jakarta - Produsen makanan dan minuman Indonesia akan mencoba melakukan penetrasi pasar-pasar baru di Afrika sebagai antisipasi terhadap pengetatan dan regulasi perdagangan yang dilakukan oleh pasar-pasar utama di luar negeri.

Walaupun begitu pasar lama tidak akan terlupakan, pasar-pasar di Eropa dan AS akan tetap menjadi prioritas untuk dipertahankan.

"Kita juga akan mencoba menjajaki pasar di Tanzania Afrika, pasar kita di Nigeria
sudah mencapai 0,31% dari total ekspor kita," Kata Ketua Umum Gabungan  Pengusaha
Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan saat dihubungi detikFinance, Rabu 9/4/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Thomas mengakui sekarang ini banyak regulasi-regulasi yang dikeluarkan oleh banyak
negara seperti AS, Kanada, Eropa terkait pengawasan terhadap kualitas makanan dan
minuman.

"Memang tentunya kita harus mengikuti aturan-aturan yang dikeluarkan oleh negara-negara tujuan ekspor kita, karena masalah mempertahankan pasar di sana,
walaupun penjajakan pasar baru perlu dilakukan," tambah Thomas.

Ia mencontohkan aturan mengenai standar sanitary dan phytosanitary atau SPS yang
diterapkan oleh badan administrasi  makanan dan obat-obatan atau Food and Drug
Administration (FDA) di AS menjadi tantangan bagi produk makanan dan minuman Indonesia.

Walaupun tidak jarang asosiasi makanan dan minuman di Indonesia melakukan complaint terhadap regulasi yang dikeluarkan oleh negara tujuan ekspor.

"Kanada pun akan mengeluarkan regulasi baru terkait pengetatan pengawasan. Tetapi
kita melakukan complaint terhadap Hongkong soal label makanan,"ujar Thomas.

Thomas menambahkan konsekuensi menembus pasar baru adalah harus menyesuaikan selera pasar bagi negara yang akan menjadi pasar baru.

Hingga kini pasar AS masih yang terbesar untuk produk makanan dan minuman (olahan)
Indonesia yang mencapai 23% dari total ekspor, sedangkan Singapura menempati posisi
kedua dengan komposisi 9%, disusul oleh pasar Jepang mencapai 8%, Malaysia 7%, Arab Saudi 2% dan lain-lain.
(hen/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads