Direktur Pemasaran Perumnas Teddy Robinson menyatakan, BUMN-BUMN itu memiliki banyak lahan yang terletak di lokasi yang strategis, tapi tidak digunakan alias menganggur.
"Daripada lahan nganggur itu dibiarkan, malah jadi sangat costly karena harus bayar pajak dan dijaga. Lebih baik kita ambil, lalu kita bangun di situ, kan jadi menghasilkan," katanya dalam jumpa pers di Kantor Perumnas, Jakarta, Selasa (9/4/2008).
Saat ini Perumnas tengah gencar-gencarnya melobi berbagai BUMN seperti Pertamina, PLN, Angkasa Pura I dan Bulog. Dan ternyata para BUMN itu menanggapi dengan antusias.
Seperti dengan PLN yang hampir saja menandatangani MoU, tapi keburu ganti direksi. Sementara dengan Pertamina, Teddy mengaku mendapat tanggapan positif dari Direktur Keuangan Pertamina Ferederick Siahaan.
"Pak Fere bilang 'malah saya sangat senang. Karena lahan-lahan ini sangat costly. Setahun saya harus bayar pajaknya Rp 240 miliar'," kata Teddy mengutip Ferederick.
Ia berharap Kementerian BUMN bersedia memfasilitasi kerjasama antar BUMN ini agar bisa segera mendapat kejelasan.
Untuk masalah pendanaan, Teddy mengaku tidak khawatir karena perusahaannya bisa mencari pendanaan eksternal baik dari mitra maupun perbankan. Perumnas diperkirakan baru bisa menyediakan sekitar Rp 400 miliar dari total nilai lahan yang mencapai triliunan rupiah. (lih/qom)










































