SBY: Jangan Sering Marahi SBY

SBY: Jangan Sering Marahi SBY

- detikFinance
Jumat, 11 Apr 2008 15:36 WIB
SBY: Jangan Sering Marahi SBY
Jakarta - Salah satu konsekuensi menduduki jabatan presiden adalah menjadi sasaran kemarahan pihak-pihak yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah. Meski kebijakan tersebut justru dibuat untuk meningkatkan kesejahteraan dari kelompok masyarakat lainnya.

Contohnya adalah kebijakan pemerintah mempertahankan harga kedelai dalam negeri. Kelompok non-petani kedelai memprotes Presiden SBY atas kebijakan yang sebenarnya menguntungkan bagi para petani kedelai di Tanah Air danΒ  ditujukan mendorong swasembada kedelai tersebut.

"Bulan lalu ada yang unjuk rasa, minta harga kedelai diturunkan. Padahal petani senang kan (harga tinggi).Β  Ya beginilah nasib presiden. Harga kedelai naik, yang bukan petani marah. Harganya turun, petani yang marah. Makanya jangan sering dimarahin SBY-nya," ujar President SBY dalam dialognya dengan perwakilan kelompok tani di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/4/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan SBY di atas menanggapi usulan yang disampaikan Sugito. Ketua kelompok tani kedelai asal Grobogan, Jawa Tengah tersebut yakin bahwa masih ada peluang meningkatkan produksi kedelai nasional hingga melampaui 3 ton per hektar sekarang ini, asalkan harga kedelai nasional tidak jatuh sehingga makin banyak petani tertarik menamam kedelai.

"Minta tolong agar harga kedelai dipertahankan, Pak," imbuhnya.

Hal lain yang juga penting merangsang minat petani, adalah kemudahan mendapatkan pupuk sebagau sarana produksi penting. Meski kondisi saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi masih saja terjadi petani kesulitan mendapatkan pupuk pada saat mereka harus melakukan pemupukan.

"Jadi distribusinya agar diperhatikan betul agar pas waktu petani kasih pupuk, barangnya tersedia. Terimakasih sekarang harga pupuk rendah, Pak. Tolong pertahankan," ujar Sugito pada presiden.

Sebelumnya Sugito memaparkan bahwa produksi kedelai kelompok taninya tahun ini sangat bagus. Setiap hektar dari total 75 hektar yang ada di di Tawangharjo mampu menghasilkan kedelai sebanyak 2,5 sampai 3 ton. Hasil produksi ini sama dengan rata-rata produksi Brasil dan sedikit dibawah AS yang mencapai 4 ton per hektar.


(lh/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads