Demikian disampaikan Kepala BKPM Muhammad Luthfi usai mengisi Indonesia Mining Updates di Hotel Sangri-La, Jakarta, Senin (14/4/2008).
"Dari yang saya tangkap dalam pembicaraan dengan Presiden, mereka hanya mau ambil minoritas, sekitar 30-40%. Jadi bukan untuk kontrol, karena mayoritas tetap di-manage pemerintah Indonesia," katanya.
Sementara untuk nilai investasinya, Luthfi menyatakan, Mittal hanya mengungkapkan perusahaan multinasional itu sanggup berinvestasi hingga US$ 10 miliar.
"Mereka hanya bilang, 'kalau Indonesia butuh US$ 5 miliar, kita masuk US$ 5 miliar. Kalau butuh US$ 10 miliar, ya kita masuk 10'. Meskipun itu baru pernyataan kenalan, belum ada komitmen," kata Luthfi mengutip Mittal.
Namun Luthfi mencontohkan, untuk membangun fasilitas yang berkapasitas 2 juta ton dibutuhkan investasi hingga US$ 3 miliar.
Menurutnya Indonesia seharusnya memanfaatkan peluang ini jika ingin menjadi negara basis produksi, bukan sekedar basis pemasaran.
Selain KS, Mittal juga berminat bekerjasama dengan Antam di bidang feedstock bijih besi. Namun pertemuan diantara mereka baru akan dilakukan 2 minggu lagi.
Seperti diketahui, rencana investasi itu sebelumnya disampaikan Raja Baja sekaligus CEO Arcelor Mittal, Lakshmi Mittal saat menemui Presiden SBY pada Kamis (10/4/2008). Namun rencana investasi itu langsung mendapat respons keras dari KS.
(lih/qom)











































