Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi dari Indef Fadhil Hasan ketika dihubungi detikFinance, Selasa (15/4/2008).
Di saat negara-negara pengekspor beras seperti China, Vietnam, Mesir dan India menahan ekspor berasnya, pemerintah Indonesia malah membuka izin ekspor beras bagi Perum Bulog.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Izin ekspor itu harus disertai dengan koridor-koridor yang ketat, yakni pada saat cadangan beras dalam negeri sudah surplus di level 3 juta ton lebih.
Kenaikan beras di pasar global kini telah melebihi US$ 800 per metrik ton untuk beras Thai 100% B. Harga itulah yang menyebabkan ekspor menjadi lebih seksi.
Namun Fadhil mengingatkan, jangan sampai cadangan dalam negeri merana karena kran ekspor beras dibuka. "Jangan sampai ketika defisit kita harus impor lagi, ya percuma saja kita ekspor," ujarnya
"Kita harus mementingkan stok dalam negeri yang memadai, kan ada cadangan besi pemerintah di Bulog dan untuk alokasi beras miskin," lanjutnya.
Fadhil pun meminta pemerintah memastikan kesahihan setiap data perberasan. Soalnya selama ini data mengenai beras seringkali tidak valid atau masih rapuh.
"Jangan sampai seperti tahun 2004, disebutnya cadangan beras aman tetapi tahun 2005 malah harus impor," ujarnya.
(ddn/ir)











































