"Kita syukuri Indonesia adalah negara agraris. Kalau Indonesia bukan negara agraris, betapa sulitnya menghadapi krisis pangan dunia saat ini," jelas Dirut Bulog Mustafa Abubakar di Gedung Depkeu, Jakarta, Selasa (15/4/2008).
Dalam rangka menghadapi lonjakan harga pangan, Bulog, pemerintah dan Deptan terus melakukan konsolidasi untuk memperkuat lini produksi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 2007, Indonesia tercatat mengimpor beras hingga 1,2-1,3 juta ton. Sementara stok beras nasional saat ini mencapai 1,3-1,4 juta ton, dan diharapkan tak ada impor beras lagi di tahun 2008. Untuk menghindari impor, kata Mustafa, Indonesia harus meningkatkan produksi secara besar-besaran. Tak hanya produksi beras, namun juga kedelai dan produk pertanian lainnya.
Salah satu caranya adalah dengan mengurangi losses setelah panen, mempercepat penampungan dan pengolahan. Menurut Mustafa, jika losses bisa dikurangi hingga 5% menjadi sekitar 11,5%, maka Indonesia bisa mendapatkan produksi 1,65 juta ton.
"Tambahan beras tanpa menambah produktivitas dan menambah areal tanam. Jadi lumayan, sama seperti impor tahun lalu kan," katanya.
Selain penggunaan bibit unggulan, menurut Mustafa hal penting lainnya adalah memperbaiki irigasi.
"Wet land atau yg berpengairan selama ini 60% atau sekitar 7 juta, masih ada 5 juta hektar yang belum terairi atau lahan kering, ini juga harus diperhatikan pemerintah, ini potensi kita. Belum lagi ada fasilitas kredit murah, KUR yang hanya 7% bunganya. KKPI itu jg harus dimanfaatkan, pembinaan para PPL juga sudah digiatkan," urai Mustafa.
"Jadi dari berbagai faktor yang disebutkan tadi, jadi kita sangat berpeluang untuk meningkatkan produksi padi. Tahun ini kalau targetnya 5% saja, kita tidak perlu impor lagi," imbuhnya.
(qom/ddn)











































