Lifting Minyak Terancam, Penerimaan APBN Berisiko

Lifting Minyak Terancam, Penerimaan APBN Berisiko

- detikFinance
Rabu, 16 Apr 2008 11:28 WIB
Lifting Minyak Terancam, Penerimaan APBN Berisiko
Jakarta - Asumsi lifting minyak dalam APBN P 2008 sebesar 927.000 barel per hari (bph) berisiko tidak tercapai. Akibatnya risiko pada penerimaan negara pun muncul.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu di sela-sela Indonesia Credit Market Outlook 2008 di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (17/4/2008).

"Memang lifting 927.000 rata-rata satu tahun ada risiko tidak tercapai dan jelas itu menyebabkan munculnya risiko pada pendapatan kita," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun bukan berarti pemerintah sudah lempar handuk. Pemerintah dalam hal ini Depkeu, bekerja sama dengan BP Migas dan Departemen ESDM akan berupaya bersama-sama tingkatkan optimalisasi produksi lifting minyak.

Anggito mengatakan jika ada penurunan lifting hingga rata-rata 10.000 barel per hari maka beban dalam APBN akan bertambah sekitar Rp 2 triliun. "Setiap penurunan 10.000 bph itu rata-rata per tahun itu akan ada tambahan defisit 2 triliun," ujarnya.

Dalam APBN perubahan tahun 2008 yang baru disahkan oleh DPR beberapa waktu lalu memang dicadangkan dana sebesar Rp 13,3 triliun untuk mengatasi risiko kenaikan harga minyak di pasar internasional, yang terus meningkat dan risiko tidak tercapainya lifting minyak.

"Memang ada cadangan, tapi itu tidak dikhususkan untuk lifting tapi untuk semuanya konsumsi, atau jika harga minyak di atas asumsi dan juga kalau lifting tidak tercapai, jadi disatukan. Tapi kalau turun 10.000 bph kita masih kuat lah masih bisa nahan," ujarnya.
(ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads