Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu di sela-sela Indonesia Credit Market Outlook 2008 di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (17/4/2008).
"Memang lifting 927.000 rata-rata satu tahun ada risiko tidak tercapai dan jelas itu menyebabkan munculnya risiko pada pendapatan kita," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggito mengatakan jika ada penurunan lifting hingga rata-rata 10.000 barel per hari maka beban dalam APBN akan bertambah sekitar Rp 2 triliun. "Setiap penurunan 10.000 bph itu rata-rata per tahun itu akan ada tambahan defisit 2 triliun," ujarnya.
Dalam APBN perubahan tahun 2008 yang baru disahkan oleh DPR beberapa waktu lalu memang dicadangkan dana sebesar Rp 13,3 triliun untuk mengatasi risiko kenaikan harga minyak di pasar internasional, yang terus meningkat dan risiko tidak tercapainya lifting minyak.
"Memang ada cadangan, tapi itu tidak dikhususkan untuk lifting tapi untuk semuanya konsumsi, atau jika harga minyak di atas asumsi dan juga kalau lifting tidak tercapai, jadi disatukan. Tapi kalau turun 10.000 bph kita masih kuat lah masih bisa nahan," ujarnya.
(ddn/ir)











































