Pada perdagangan di London, Rabu (16/4/2008), harga minyak untuk kontrak utama New York jenis light pengiriman langsung menerjang level US$ 114,50 per barel, sebelum kini stabil di kisaran US$ 114,20 per barel. Harga itu berarti naik 41 sen dibandingkan penutupan sebelumnya di New York.
Sementara minyak jenis Brent pengiriman Juni juga menerjang level tertingginya di US4 112,35 per barel, sebelum akhirnya stabil di level US$ 111,96 per barel, atau berarti naik 38 sen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mata uang tunggal euro kembali menembus rekor tertingginya di 1,5947 dolar, setelah data yang dirilis pemerintah setempat menunjukkan bahwa inflasi di kawasan tersebut telah mencatat angka tertingginya.
Inflasi di 15 negara Eropa secara tahunan mencapai 3,6% selama Maret. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak diluncurkannya mata uang tunggal euro pada tahun 1999.
Kemerosotan dolar AS ini kian memicu aksi belanja di pasar komoditas yang menggunakan denominasi dolar dalam perdagangannya. Pelemahan dolar membuat harga-harga komoditas menjadi semakin muerh.
"Harga minyak terus naik dan kini menuju target US$ 115," ujar Oliver Jakob, analis dari Petromatrix.
Selain masalah kemerosotan dolar, harga minyak juga melonjak dipicu meluasnya kecemasan soal suplai. Para pialang kini tinggal fokus pada laporan krusial tentang angka cadangan minyak di AS, yang merupakan konsumen minyak terbesar dunia.
Victor Shum, analis dari Purvin and Gertz meyakini bahwa harga minyak akan terus melonjak.
"Pasar secara umum telah mengabaikan berita bearish seperti perkiraan melambatnya permintaan dan fokus pada bullish," ujarnya.
(qom/ddn)











































