Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya dalam acara diskusi di Hotel Borobudur, Jakarta (17/8/2008).
"Mengganti batubara bisa saja, tapi kalorinya tidak seperti gas yang lebih tinggi, juga ampasnya lebih besar. Bahan bakar minyak solar bisa tapi harganya terlalu tinggi. 1 mmbtu gas itu 27,8 kilo kalori solar," ujarnya.
Sehingga kata Achmad, produsen kramik tidak mungkin bisa menggunakan energi non gas, untuk itu ia meminta walaupun pasokan gas sekarang ini relatif aman. Rencana kenaikan harga gas tidak relevan dengan kondisi sekarang, mengingat industri keramik baru mulai pulih dari keterpurukan pasokan gas beberapa tahun lalu.
"Kalau naik 6 sampai 8 bulan kenapa mau naik karena Oktober lalu sudah naik. PGN jual US$ 5,5 /mmbtu rata-rata itu biasanya naik 10%," katanya.
Kenaikan gas tahun lalu menurutnya justru yang menikmati keuntungan adalah para distributor. "Pemerintah terlalu sering menyalahkan faktor dari luar negeri. Mau dibikin neraca balance gas ya nggak ada yang bisa dijadikan pegangan," paparnya.
Namun ia mengakui untuk sementara sekarang ini pasokan gas belum ada gangguan. Sehingga kondisi sekarang ini cukup kondusif untuk peningkatan produksi industri keramik di tengah meningkatnya permintaan keramik di dalam negeri karena didorong oleh sektor properti.
"Industri keramik itu biasanya kalau ada kenaikan turun kapasitasnya 30% karena tungku yang bakar itu tidak boleh di bawah 1000 derajat karena kalau diturunkan nggak efisien, lebih ekonomis kalau tutup," imbuhnya.
(hen/qom)











































