AdamAir Ingin Terbang Lagi

AdamAir Ingin Terbang Lagi

- detikFinance
Kamis, 17 Apr 2008 16:52 WIB
AdamAir Ingin Terbang Lagi
Jakarta - Manajemen AdamAir merayu pemegang saham untuk membuka kembali izin operasi yang dicabut Departemen Perhubungan pada 18 Maret lalu.

"Kita sudah menyampaikan proposal pada pemegang saham untuk menghidupkan kembali operating spesification yang ditutup Dephub pada 18 Maret lalu," ujar Dirut PT Adam Sky Connection Airlines Adam Adhitya Suherman dalam jumpa pers usai RUPSLB di Kantor Pusat AdamAir, Jalan Gedong Panjang, Jakarta, Kamis (17/4/2008).

Menurut Adam ada 3 perwakilan pemegang saham dalam RUPS yang mendukung direksi untuk menghidupkan kembali, namun pemegang saham PT Global Transport Service (GTS) dan PT Bright Star Perkasa (BSP) tidak mendukung hal itu. "Jadi proporsal ini statusnya masih deadlock untuk menghidupkan AdamAir," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Manajemen menginginkan agar AdamAir kembali mengudara karena sudah mengisi 30 persen kapasitas transportasi udara nasional. "Kami minta pemegang saham bersikap adil dan bijaksana memikirkan nasib AdamAir ke depan," ujarnya.

PT Global Transport Service (GTS) dan PT Bright Star Perkasa (BSP) menurut Adam belum menarik sahamnya di AdamAir. "Dalam RUPS belum pernah ada penarikan saham, dari BSP dan GTS, jadi mereka masih sah pemegang saham 50 persen AdamAir, jadi kehadiran mereka mewakili 50 persen pemegang saham," ujarnya.

Sementara itu Direktur Keuangan Gustiono Kustianto ketika dihubungi wartawan membenarkan rencana manajemen menghidupkan kembali izin AdamAir. Menurut Gustiono, untuk membuka kembali izin AdamAir, manajemen meminta tambahan dana kepada pemegang saham. Namun pihaknya meminta kasus penyelewengan dana bertriliun rupiah diselesaikan terlebih dahulu.

"Jadi ternyata Adam mau tambahan dana untuk itu, tapi BSP dan GTS kan melihat ada penyimpangan dana, jadi kita minta itu diselesaikan dulu. bukannya kita tidak setuju tapi itu harus jelas dulu," ujarnya.

Gustiono menambahkan dalam 10 bulan terakhir sebenarnya manajemen AdamAir memiliki uang Rp 157,5 miliar. "Uang itu kemana saja, masak sekarang sudah minta tambahan lagi," ujarnya.

Gustiono pun meminta hal ini ditunda dulu sebelum kasusnya menjadi jelas di depan hukum. "Tergantung penyidikan polisi," ujarnya.

Gustiono sempat melaporkan pemegang saham yang lain yakni keluarga Suherman ke Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Dalam RUPS tadi tidak ada pembahasan mengenai investor baru bagi AdamAir. Manajemen menginginkan kejelasan status karyawan yang kini tidak bekerja karena statusnya yang sudah dibekukan oleh Dephub.

"Sikap manajemen kepada pemegang saham dalam RUPS tadi kita menginginkan kejelasan status karyawan, apa yang menjadi kewajiban kita kepada karyawan dan juga mengenai pengembalian tiket itu harus bisa dipenuhi. Dengan pencabutan operating spesicification itu berarti operasi kita berhenti, jadi karyawan seperti pramugari, pramugara, pilot tidak bisa melakukan pekerjaannya karena tidak ada pesawat yang terbang," ujar Adam Suherman.

Sementara itu mengenai kabar perubahan nama AdamAir menjadi King and Queen Air, Adam masih berkelit. Adam mengatakan pihaknya tidak berencana mengganti nama atau membuat maskapai baru.

"AdamAir tidak pernah berencana untuk melakukan perubahan nama dan manejemen tidak pernah memerintahkan untuk membuat sebuah maskapai baru. Mau namanya King and Queen atau apa, kita tidak pernah melakukan itu," ujarnya.
(ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads