Subsidi BBM Bisa Aman, Subsidi Listrik Masih Tanda Tanya

Subsidi BBM Bisa Aman, Subsidi Listrik Masih Tanda Tanya

- detikFinance
Kamis, 17 Apr 2008 18:34 WIB
Subsidi BBM Bisa Aman, Subsidi Listrik Masih Tanda Tanya
Jakarta - Penerimaan negara dari migas masih mampu membiayai subsidi BBM, bahkan ketika harga minyak Indonesia (ICP/Indonesia Crude Price) mencapai US$ 125/barel. Namun penerimaan itu hanya cukup untuk membiayai subsidi BBM

Sementara untuk subsidi listrik belum bisa tertutupi oleh kenaikan penerimaan akibat kenaikan harga minyak itu.
Β 
Demikian disampaikan Dirjen Migas Luluk Sumiarso menjelaskannya dalam jumpa pers Raker Migas di Museum Migas, TMII, Kamis (17/4/2008).
Β 
"Makin tinggi harga minyak, penerimaan kan makin naik. Tapi delta dengan subsidi yang harus dibayar makin menyempit. Sampai dengan ICP US$ 125/barel masih surplus, dengan catatan minyak to minyak. Penerimaan minyak untuk subsidi minyak, karena saya kan nggak ngurusin listrik," katanya.
Β 
Sementara Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengakui, bahwa Indonesia mendapatkan windfall profit dari kenaikan harga minyak belakangan ini.
Β 
Berdasarkan laporan Dirjen Pajak Darmin Nasution yang diterimanya, ketika harga minyak US$ 85/barel penerimaan dari minyak sekitar Rp 200 triliun. Begitu harga minyak melonjak jadi US$ 95/barel, penerimaan juga ikut naik menjadi sekitar Rp 300 triliun.
Β 
"Hal ini diakui Dirjen Pajak. Istilahnya Darmin tuh one to one. Jadi naiknya cukup besar, dan sangat terasa di income," katanya.
Β 
Hanya saja tak bisa dipungkiri, selain menikmati windfall profit yang luar biasa, subsidi yang ditanggung juga bukan main-main. Apalagi, rata-rata ICP hingga Maret 2008 sudah menembus US$ 103/barel.
Β 
Karena itulah, pemerintah harus menggenjot program penghematan subsidi melalui smart card dan kartu kendali, serta meningkatkan produksi minyak.
Β 
Rata-rata produksi minyak pada Januari adalah 955.847 barel per hari, pada Februari adalah 992.326 barel per hari, dan Maret sebesar 982.540. Total rata-rata dari Januari-Maret mencapai 977 ribu barel per hari. Sementara target lifting 927 ribu barel per hari tanpa memperhitungkan 50 ribu barel per hari dari Chevron.
Β 
"Tetapi perlu diingat, 927 ribu barel target lifting adalah rata-rata setahun. Selama beberapa bulan kedepan kan bisa naik turun," tegas Purnomo.

(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads