Sementara untuk subsidi listrik belum bisa tertutupi oleh kenaikan penerimaan akibat kenaikan harga minyak itu.
Β
Demikian disampaikan Dirjen Migas Luluk Sumiarso menjelaskannya dalam jumpa pers Raker Migas di Museum Migas, TMII, Kamis (17/4/2008).
Β
"Makin tinggi harga minyak, penerimaan kan makin naik. Tapi delta dengan subsidi yang harus dibayar makin menyempit. Sampai dengan ICP US$ 125/barel masih surplus, dengan catatan minyak to minyak. Penerimaan minyak untuk subsidi minyak, karena saya kan nggak ngurusin listrik," katanya.
Β
Sementara Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengakui, bahwa Indonesia mendapatkan windfall profit dari kenaikan harga minyak belakangan ini.
Β
Berdasarkan laporan Dirjen Pajak Darmin Nasution yang diterimanya, ketika harga minyak US$ 85/barel penerimaan dari minyak sekitar Rp 200 triliun. Begitu harga minyak melonjak jadi US$ 95/barel, penerimaan juga ikut naik menjadi sekitar Rp 300 triliun.
Β
"Hal ini diakui Dirjen Pajak. Istilahnya Darmin tuh one to one. Jadi naiknya cukup besar, dan sangat terasa di income," katanya.
Β
Hanya saja tak bisa dipungkiri, selain menikmati windfall profit yang luar biasa, subsidi yang ditanggung juga bukan main-main. Apalagi, rata-rata ICP hingga Maret 2008 sudah menembus US$ 103/barel.
Β
Karena itulah, pemerintah harus menggenjot program penghematan subsidi melalui smart card dan kartu kendali, serta meningkatkan produksi minyak.
Β
Rata-rata produksi minyak pada Januari adalah 955.847 barel per hari, pada Februari adalah 992.326 barel per hari, dan Maret sebesar 982.540. Total rata-rata dari Januari-Maret mencapai 977 ribu barel per hari. Sementara target lifting 927 ribu barel per hari tanpa memperhitungkan 50 ribu barel per hari dari Chevron.
Β
"Tetapi perlu diingat, 927 ribu barel target lifting adalah rata-rata setahun. Selama beberapa bulan kedepan kan bisa naik turun," tegas Purnomo.
(lih/qom)











































