Presiden SBY Soal Subsidi BBM: It's Too Much

Presiden SBY Soal Subsidi BBM: It's Too Much

- detikFinance
Jumat, 18 Apr 2008 17:21 WIB
Presiden SBY Soal Subsidi BBM: Its Too Much
Jakarta - Lonjakan harga minyak dunia yang mencapai US$ 115 per barel semakin memperberat APBN. Presiden SBY menyebut beban APBN saat ini sudah terlalu berat.

"It's too much," tegas Presiden SBY dalam makan siang bersama tokoh-tokoh wanita, Jumat (17/4/2008) di Istana Merdeka, Jakarta.

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang semakin tak terbendung itu telah memaksa pemerintah menaikkan harga BBM hingga 100% pada tahun 2005 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Energi mencemaskan. Sekarang capai US$ 115 per barel. Dulu biasanya US$ 15-20, lalu 40 dan tembus 65. Kita nggak bisa tahan, terpaksa 2005 naikkan harga BBM," jelas SBY.

Dan sekarang, saat harga minyak mencapai US$ 100 per barel, maka subsidi BBM mencapai Rp 360 triliun.

"Itu terlalu banyak dibanding APBN kita yang Rp 900 triliun sekian. Subsidi minyak tanah Rp 63-70 triliun per tahun, it's too much," tegasnya.

"Tapi kan kita tidak bisa begitu saja naikkan. Kita cari akal lain. Kita akan lakukan berbagai upaya untuk atasi," imbuhnya.

Sementara Menkeu Sri Mulyani mengatakan, APBN tidak bisa dibuat dengan melihat perkembangan harian harga minyak. Pemerintah akan mencermati pergerakan harga minyaknya selama satu semester yaitu hingga Juni untuk selanjutnya melaporkannya ke DPR.

"Sekarang kan secara total tiga bulan itu masih US$ 96,4 per barel rata-ratanya. Jadi, kalau sekarang di atas US$ 100 per barel, mungkin juga belum akan mencapai karena kemarin selama tiga bulan, rata-ratanya di bawah US$ 100 per barel. Kemudian, yang harus dilihat secara penuh perhatian juga dari sisi volume konsumsinya. Dua hal ini nanti akan kita lihat dalam satu semester," urainya.

Menkeu mengakui bahwa APBN mungkin saja tidak idel, tapi yang penting APBN bersifat sustainable.

"Sustainable means semua pengeluaran yang akan dibelanjakan itu bisa didanai dengan penerimaan negara yang ada. Kalau kita harus melakukan penghematan, itu harus dilakukan dengan betul-betul suatu program yang sangat kuat. Jadi, itu yang harus kita lihat dalam dua bulan ke depan," pungkasnya.


(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads