Demikian disampaikan oleh Sekretaris Menneg BUMN Said Didu dalam acara gathering bersama wartawan di Subang, Jawa Barat, Minggu (20/4/2008).
Penurunan drastis total kerugian BUMN di tahun ini akan dicapai denga penyusutan jumlah BUMN yang mengalami kerugian di tahun ini. Jika tahun lalu ada 28 BUMN yang merugi, maka tahun ini targetnya hanya tersisa 11 BUMN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional Indonesia, PT Kereta Api Indonesia, PT Reasuransi Umum Indonesia, PT Inhutani V, Perum Produksi Film Nasional, PT Industri Sandang Nusantara, PT Primissima, PT Survei Udara Penas, PT Boma Bisma Indra dan PT Kertas Kraft Aceh.
"BUMN seperti Merpati dan Pelni masih merugi karena mereka menjalankan tugas PSO (Public Service Obligation), demikian juga dengan Kereta Api, namun kita harapkan tugas-tugas tersebut tetap dijalankan tanpa harus mengorbankan keuangan BUMN yang bersangkutan," tutur Said.
Said menambahkan, pada tahun ini unruk pertama kalinya PLN diperkirakan akan untung setelah mengalami kerugian Rp 1,5 triliun pada tahun lalu.
"Memang dari tahun ke tahun penyumbang kerugian terbesar BUMN adalah PT PLN, dimana prognosa tahun 2007 kerugian PLN mencapai Rp 1,5 triliun," katanya.
Namun sumber detikFinance di pemerintahan mengatakan PLN masih sulit mengalami keuntungan di tahun 2008 ini karena masih beratnya beban subsidi listrik.
"Aset PLN yang diperkirakan dalam RKAP meningkat Rp 100 triliun tahun ini dari Rp 376,15 triliun di 2007 juga harus dipertanyakan, kenapa bisa melonjak drastis," kata sumber tersebut.
Laba BUMN Naik Rp 10 Triliun
Dari data yang diperoleh, diperkirakan total laba bersih BUMN di 2008 meningkat dari Rp 71,59 triliun di 2007 menjadi Rp 81,202 triliun di 2008.
Sumber tersebut mengatakan Pertamina masih menduduki peringkat teratas pencapaian laba bersih BUMN di 2008 yaitu sekitar Rp 28 triliun.
"Yang harus dijaga adalah bagaimana agar 2008-2009 pada saat Pemilu, pertumbuhan laba BUMN dijaga agar tidak rata, sebab hal ini terjadi pada saat Pemilu 2005 dimana pada 2004 laba bersih BUMN Rp 42,14 triliun dan 2005 pertumbuhannya rata menjadi Rp 42,31 triliun," urai sumber tersebut.
(dnl/lih)











































