Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi ketika ditemui di Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (21/4/2008).
"Dalam minggu ini kita akan undang sebuah perusahaan dari Filipina untuk berdiskusi dan sharing bagaimana pengembangan panas bumi di sana. Karena Filipina memang lebih maju dari kita soal ini," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia merupakan negara dengan cadangan panas bumi yang besar, namun pengembangannya masih sangat kecil sampai sekarang. Beberapa proyek panas bumi yang sudah berjalan berlokasi di Jawa Barat seperti Kamojang, Salak, dan lain-lain.
"Kedepan kita perlu perbaikan dan tata ulang investasi geothermal. Saya juga sudah bertemu Menko Perekonomian dan ingin sekali mengembangkan energi terbarukan," jelasnya.
Insentif Bagi Batubara Kalori Rendah
Selain panas bumi, Lutfi menjelaskan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro meminta agar pengembangan batubara berkalori rendah atau Low Rank Coal (LRC) mendapatkan fasilitas insentif pajak.
LRC merupakan batubara dengan kadar kalori rendah. Batubara ini banyak terdapat di Indonesia, tapi belum banyak dikembangkan.
Kali ini BKPM ingin memfokuskan pengembangan LRC melalui proses gasifikasi. Bahkan Lutfi mengaku pihaknya sudah meminta perwakilan Indonesia di Afrika Selatan untuk berbicara dengan Sasol. Sasol merupakan perusahaan Afrika Selatan yang sudah sangat berpengalaman mengembangkan LRC melalui gasifikasi.
Gasifikasi batubara ini menjadi penting untuk dikembangkan seiring rencana pembangunan kompleks petrokimia berbasis gas.
(lih/ddn)










































