Pada perdagangan Senin (21/4/2008) di Singapura kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman Mei ditutup naik hingga 38 sen menjadi US$ 117,07 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus US$ 117,40 per barel.
Untuk minyak jenis Brent pengiriman Juni juga merobek rekor baru di US$ 114,65 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 39 sen menjadi US$ 114,31 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pelemahan dolar AS, harga minyak juga dipicu oleh serangan atas pipanisasi minyak Nigeria, yang merupakan produsen terbesar di Afrika.
Harga semakin memanas setelah negara-negara OPEC menyatakan tak mau menambah tingkat produksi, dengan alasan kenaikan harga saat ini bukan dipicu oleh faktor permintaan dan penawaran.
Presiden OPEC Chakib Khelil menyatakan hal yang sama. Menurutnya, OPEC yang kini menguasai 40% produksi minyak dunia belum melihat perlunya menaikkan produksi dalam waktu dekat.
"Hari ini tidak ada perlunya bekerja dan mengatakan bahwa kita harus menambah minyak di pasar. Karena permintaan minyak dimotivasi oleh masalah politik," kata Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali-al Naimi.
Menteri Energi Venezuela Rafael Ramirez bahkan tak yakin harga minyak bisa turun hingga di bawah US$ 90 per barel.
"Kami percaya bahwa harga akan tetap berada di kisaran ini, paling tidak sekitar US$ 90. Harga minyak tidak turun lebih banyak karena biaya produksi sudah meningkat," imbuhnya.
(qom/ir)











































