"Kita harus bisa menerima bahwa era harga pangan murah sudah usai," ujar Rajat Nag, Managing Director General ADB seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/4/2008).
ADB pada pekan lalu mengumumkan bahwa lonjakan harga pangan telah menghambat upaya negara-negara Asia untuk melawan kemiskinan. Bahkan sejumlah negara memerlukan bantuan dari negara lain untuk membantu jutaan warga yang kelaparan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan sebelumnya, ADB menyatakan bahwa risiko terbesar dari kawasan ini adalah melonjaknya inflasi yang diperkirakan mencapai 5,1%. Angka itu merupakan inflasi terbesar di Asia dalam satu dekade. Khusus untuk harga beras naik hingga dua kali lipat dalam 5 tahun.
Tak hanya Asia, Eropa pun mencemaskan soal lonjakan harga pangan. Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) juga menyatakan bahwa lonjakan harga pangan kini semakin sulit diprediksi, namun kecenderungannya akan terus naik.
"Proyeksi harga pangan baik dunia maupun domestik masih tetap tinggi ketidakpastiannya," ujar ECB dalam pernyataannya.
ECB menyatakan, harga pangan dunia terus naik karena adanya perubahan pola konsumsi dan adanya berita tentang sumber-sumber permintaan baru, terutama berkaitan dengan penggunaan untuk biofuel.
(qom/ir)











































