Salah satu proyek yang dibatalkan adalah kereta supercepat yang akan menghubungkan Kuala Lumpur-Singapura. Sementara proyek kedua jembatan Penang juga ditunda lagi sehubungan dengan kenaikan biaya-biaya.
Keputusan untuk membatalkan proyek kereta cepat senilai miliaran dolar itu diambil oleh Economic Planning Unit (EPU) Malaysia, sepekan setelah kedua negara tersebut sepakat untuk mempelajari kemungkinan menghubungkan kedua negara dengan kereta supercepat.
EPU itu merupakan unit yang bertugas untuk mengevaluasi dan membantu mengimplementasikan berbagai proyek kunci di Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Sulaiman tidak menyebutkan detail dari rencana tersebut. Proyek kereta supercepat senilai US$ 2,6 miliar atau sekitar 8 miliar Ringgit itu semula diajukan oleh perusahan properti dan perkakas, YTL Corp kepada Perdana Menteri Malaysia saat masih dijabat Mahathir Mohammad di era 1990-an.
Proyek itu diajukan setelah rampungnya jalur kereta api menuju Bandar internasional Kuala Lumpur. YTL memiliki separuh dari proyek kereta Bandara KL itu. Namun Mahathir menolak proyek tersebut.
YTL selanjutnya mengajukan lagi proyek tersebut pada tahun 2006. Kereta cepat itu rencananya akan memiliki kecepatan 350 kph, sehingga jarak tempuh antara dua kota yang biasanya 7 jam bisa dipersingkat hanya dalam 90 menit.
Managing Director YTL, Francis Yeoh sebelumnya menyatakan, proyek kereta supercepat baru itu akan menyelamatkan subdisi BBM bagi Malaysia hingga puluhan miliar Ringgit dalam jangka panjang. Yeoh juga mengaku sudah mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk proyek tersebut.
Sementara untuk proyek jembatan penang kedua juga kembali ditunda sehubungan dengan adanya masalah akuisisi tanah, desain dan juga meningkatnya biaya.
"Pertama, kita perlu mengambil alih lahan, kemudian ada masalah yang berhubungan dengan desain. Kami ingin memastikan desain yang terbaik," kata PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi.
"Juga terkait biaya-biaya yang harus kita perhatikan. Ada beberapa perubahan dalam biaya karena harga material terus naik," kata PM Badawi yang memastikan penundaan proyek itu tidak akan terlalu lama.
(qom/ir)










































