"Untuk sektor keuangan di Indonesia masih menunjukkan performa yang bagus dan masih cukup tahan terhadap guncangan. Pertumbuhan kredit perbankan kuartal I-2008 masih memperlihatkan kinerja yang bagus jadi saya rasa masih kuat. Tapi bulan depan kami akan ada tim yang melakukan penelitian terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia dan nanti tim tersebut akan memberikan update terkini mengenai proyeksi kami terhadap Indonesia," ulas Charles Collyns, Deputy Director Of The Research Department IMF.
Hal itu diungkapkanΒ Collyns dalam acara diksusi bertajuk "The Eye Storm - Financial Crisis, The Global Economy, and Implication for the Region' di gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (23/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlambatan yang terjadi di AS menjalar ke Eropa yang juga diperkirakan melambat. Jepang juga melambat tapi kecil pengaruhnya, karena Jepang tidak terlalu bergantung kepada ekonomi AS dan Eropa.
Menurut Collyns, saat ini yang menjadi perhatian dunia adalah pelemahan tingkat konsumsi dan investasi karena akan berdampak kepada penambahan tingkat pengangguran. Bahkan di AS sejak terjadi krisis, jumlah tingkat pengangguran meningkat, dan diperkirakan baru akan recovery pada 2009. Yang dilakukan pemerintah AS untuk menanggulangi hal ini adalah dari sisi kebijakan moneter, dan stimulus fiskal.
Sementara itu, untuk ekonomi negara berkembang (emerging economies), gejolak yang terjadi di perekonomian global saat ini sebenarnya tidak terlalu banyak berpengaruh, dan ini menjadi suatu berita yang bagus.
Akan tetapi pertumbuhan produktivitas industri dan ekspor akan sedikit berpengaruh karena pasar ekspor di AS dan Eropa mengalami penurunan permintaan akibat perlambatan ekonomi yang terjadi. Namun permintaan untuk ekspor di regional Asia masih cukup kuat, jadi gambaran perekonomian di Asia sampai saat ini masih cukup kuat.
Saat ini, lanjutΒ Collyns, yang menjadi perhatian di regional Asia adalah tingginya tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dan komoditas dunia. Selain itu ekspektasi inflasi juga masih cukup tinggi, jadi penting untuk pemerintah di Asia menjaga tekanan inflasi ini.
"Komoditas memang masih cukup tinggi seiring dengan meningkatnya permintaan dunia, sementara tingkat suplai tidak mencukupi permintaan yang ada, apalagi saat ini komoditas pangan juga berlomba-lomba untuk juga digunakan sebagai bahan baku biofuel," tutur Collyns.
Disisi lain ekspektasi harga minyak ke depan masih mengalami kenaikan meski kenaikan ini memang lebih banyak disebabkan oleh permainan di pasar finansial.
"Sebab begini, seharusnya dengan perlambatan ekonomi yang terjadi, harusnya permintaan minyak menurun sehingga harga tidak melonjak, namun yang terjadi justru sebaliknya, harga melonjak tajam," tutur Collyns.
Jadi menurut Collyns yang harus dilakukan untuk menjaga tekanan inflasi negara-negara Asia adalah pengetatan kebijakan moneter. Kemudian melakukan improve policy framework, dan negara-negara emerging di Asia harus lebih kuat menghadapi krisis yang terjadi dibanding masa lalu. Yang lebih penting pemerintah harus lebih cepat dalam merespons setiap guncangan yang terjadi.
Untuk inflasi sampai Maret, yang tertinggi terjadi di Vietnam yaitu 19 persen (YoY). Menurut Collyns laju tekanan inflasi yang tinggi tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di seluruh negara emerging di Asia. Karena itu pemerintah harus siap merespons risiko tekanan inflasi yang tinggi dan juga berupaya meningkatkan daya beli. Sehingga tingkat konsumsi tetap kuat dan menyokong pertumbuhan ekonomi, jumlah tenaga kerja juga harus ditingkatkan.
Permintaan domestik yang kuat di Asia menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di tengah guncangan yang terjadi. "Proyeksi kami terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih tetap sama seperti yang kami katakan pada Oktober 2007 lalu yaitu sebesar 6,1% di 2008, sementara untuk Asia pertumbuhannya 6,2%," katanya.
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih cukup kuat ditopang oleh tingginya komoditas dan ekspor, tapi risiko penurunan memang tetap ada dan ini yang harus dijaga. "Proyeksi kami masih sama 6,1%Β karena dilihat pada kuartal I-2008, pertumbuhan konsumsi masih kuat dimana penjualan kendaraan masih meningkat dan juga kredit konsumsi yang bagus performanya," tutur Collyns.
Turunnya proyeksi pertumbuhan Asia dari 6,6% menjadi 6,2% adalah karena penurunan ekspor eksternal ke AS dan Eropa yang mempengaruhi sektor perdagangan.
(dnl/ir)











































