RI Harus Capai 3,7 Juta Kiloliter Bioetanol Tahun 2010

RI Harus Capai 3,7 Juta Kiloliter Bioetanol Tahun 2010

- detikFinance
Kamis, 24 Apr 2008 13:39 WIB
RI Harus Capai 3,7 Juta Kiloliter Bioetanol Tahun 2010
Jakarta - Indonesia harus capai produksi 3,77 juta kilo liter bioetanol pada tahun 2010. Hal ini harus dilakukan untuk menekan ketergantungan penggunaan energi bahan bakar minyak (BBM)
 
"Subdisi BBM naik sebesar lebih dari Rp 120 triliun, kalau tidak cepat melakukan  pengembangan bioetanol kita akan berat dari waktu ke waktu," kata Ketua Tim Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Al Hilal Hamdi disela-sela acara seminar bioenergi, di gedung Departemen Pertanian, Jakarta, Kamis (24/4/2008).
 
Al Hilal menambahkan, dengna kondisi seperti ini, maka sebaiknya tidak membayangkan harga minyak turun dibawah US$ 100 dollar per barel. Bahkan harus sudah mengasumsikan dilevel US$ 150, karena menurutnya kecenderungannya tidak akan turun.
 
"Yang bisa mengurangi itu adalah bahan bakar yang berbasis pertanian misalnya tebu BAP pada level US$ 40- US$ 50 per barel harus kita percepat dan ini lebih murah. Sekarang harga etanol itu Rp 5500 per liter itu sudah ditambah bioetanol 1%," katanya.
 
Selama ini bioetanol dihasilkan oleh bahan komoditi tebu, singkong, tebu, jarak pagar dan lain-lain.
 
Dalam road map pengembangan bioetanol hingga 2010, Departemen Pertanian mencanangkan penambahan 5 juta hektar untuk pengembangan lahan komoditi sumber bioenergi.
 
Tahun 2010 ditargetkan ada perluasan lahan singkong hingga 782.000 hektar dari realisasi lahan singkon pada tahun 2007 yang hanya 52.195 hektar. Untuk lahan tebu ditargetkan mencapai 698.000 hektar dari realisasi tahun 2007 yang mencapai 400.100 hektar.
 
Sedangkan untuk jarak pagar ditargetkan mencapai 1,54 juta hektar dari realisasi tahun 2007 yang mencapai 121.200 hektar.
 
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Purnardi Djojosudirdjo, mengatakan dari produksi biofuel pada tahun 2007 yang hanya mencapai 139.600 kilo liter per tahun, hampir 80% diserap untuk pasar ekspor di luar sektor energi.
 
"Bioetanol dieskpor 80% sisanya diserap oleh pertamina, diekspor ke Taiwan sebagai bahan baku minuman keras," kata Purnardi.
 

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads