Hal ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris ketika ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (24/4/2008).
"Jadi dia (Mittal) telah tawarkan 3 opsi seperti yang pernah saya jelaskan, untuk strategic patnership, pemerintah paling tinggi memberikan keputusan 40 persen, artinya untuk perusahaan yang berjalan saya menilai dengan pemberian 35 persen pun sudah lebih dari cukup itu untuk strategic patnership," tuturnya.
Sedangkan untuk pembangunan pabrik baru Krakatau Steel, Fahmi mengatakan Mittal mengusulkan agar bisa menjadi mayoritas di dalamnya. "Untuk pengembangan tambang dengan Antam pun ia usulkan agar ia jadi majority," ujarnya.
Di tempat yang sama, Menneg BUMN Sofyan Djalil malah mengakui pihaknya justru belum menerima proposal dari Mittal untuk masuk di Karakatau Steel.
"Proposal belum sampai ke saya mungkin lewat Pak Fahmi, ke saya belum. Nanti kita panggil manajemen Mittal untuk presentasi proposalnya. Mengenai waktunya seharusnya kan Rabu kemarin, tapi karena ada masalah teknis jadi belum ditentukan lagi," ucapnya.
Sikap Kementerian BUMN sendiri mengenai rencana Mittal ini belum bisa dikatakan Sofyan. "Tapi intinya adalah mengembangkan baja di Indonesia dan kebutuhan dalam negeri bisa terpenuhi kalau perlu kita ekspor, solusi untuk bangun pabrik baja di Indonesia cukup bagus, oleh karena itu kita dukung, tapi bagaimana mekanismenya kita tunggu, kita tunngu proposal mereka," urainya. (dnl/qom)











































