"Ini (subsidi BBM) sudah terlalu berat, tidak mungkin artinya kita bisa collapse," ujar
Wakil Ketua Kadin Bidang Investasi, Perhubungan, Informatika,Telekomunikasi Dan Pariwisata Chris Kanter usai bertemu Menko Perekonomian Boediono di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (25/4/2008).
Kadin tetap pada pendapatnya harga BBM harus disesuaikan dengan keadaan harga minyak dunia saat ini yang sudah melonjak sangat tinggi bahkan sudah menyentuh US$ 120 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Minyak sudah US$120 per barel meskipun setelah itu turun sedikit lagi, dan prediksinya akan naik terus berdasarkan keadaan di dunia, menurut kami dari Kadin, karena beban APBN tuh sudah berat sekali tidak tertanggung lagi maka pemerintah harus sesuaikan harga minyak, bagaimanapun harus dan harus dihitung dengan baik karena tergantung kemampuan masyarakat sendiri," tuturnya.
Â
Chris mengatakan saat ini dana anggaran lebih banyak dipakai untuk subsidi, padahal menurutnya akan sangat produktif jika dana APBN banyak dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur atau program-program ekonomi yang langsung mendorong sektor ekonomi.
Â
Berapa besar kenaikan BBM yang harus diterapkan, Chris mengatakan pemerintah harus menghitung itu dengan sangat hati-hati, bahkan kalau bisa jangan sampai lebih dari Rp 1.000.
Â
"Tapi ini bukan salah pemerintah, ini kan fenomena dunia semua tidak bisa predict, predict sampai US$120 per barel ternyata tercapai, ada pendapat bilang ia bisa sampai US$ 140 per barel dalam cakupan waktu dekat, ini bisa saja terjadi karena Nigeria penghasil terbesar bermasalah dengan Iran belum selesai itu selalu jadi indikator tentang harga," ujarnya.
(dnl/ddn)











































