Pemerintah Pilih Opsi Menaikkan Subsidi BBM

Pemerintah Pilih Opsi Menaikkan Subsidi BBM

- detikFinance
Minggu, 27 Apr 2008 14:09 WIB
Pemerintah Pilih Opsi Menaikkan Subsidi BBM
Jakarta - Pemerintah lebih memilih opsi untuk menaikkan subsidi BBM ketimbang untuk menaikkan harga bahan bakar minyak dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, disela acara Pencanangan Gerakan Hemat Energi Nasional di TMII, Jakarta, Minggu (27/4/2008).

Hal itu disampaikan Purnomo menyikapi tingginya harga minyak di pasar internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita terus pantau dan cermati, terutama produksi minyak non OPEC karena produksi OPEC juga masih terbatas. Mengenai dampaknya terhadap ekonomi nasional, pemerintah cenderung akan menambah anggaran subsidi ketimbang menaikkan harga BBM, karena bisa mempengaruhi angka inflasi," ujar Purnomo.

Harga minyak dunia naik akan menaikkan pendapatan pemerintah dari sektor migas, namun di sisi lain otomatis subsidi juga akan naik.

Beberapa waktu terakhir, harga minyak masih berfluktuasi cukup tajam. Posisi tertingginya sempat menembus US$ 119 per barel.

Menanggapi hal ini, Purnomo menyatakan pemerintah terus mencermati fluktuasi harga minyak dunia, terutama kaitannya dengan kondisi ekonomi nasional yang bisa memicu kenaikan angka inflasi jika pemerintah mengambil opsi menaikkan harga BBM dalam negeri.

Untuk itu, ia mengatakan pemerintah memerlukan kepastian angka produksi minyak dalam negeri agar dapat menentukan berapa pendapatan yang akan diperoleh, terutama berkaitan dengan berapa jumlah anggaran subsidi yang akan ditambah.

"Kita sudah konsolidasikan dengan berbagai pihak, termasuk kontraktor. Kita harapkan angka produksi minyak bisa segera dipastikan dan jangan sampai menurun kapasitas produksinya," ujar Purnomo.

Sementara menurut Dirjen Migas, Luluk S, posisi lifting minyak per Kamis (24/4/2008) angka produksi minyak dalam negeri sekitar 977.066 barel per hari (BPH).

"Berdasarkan data per Kamis lalu, lifting minyak kita sebesar 977.066 bph. Setelah dikurangi swap sekitar 50.000 bph, jadi kira-kira posisinya sekitar 927.000 bph," ungkap Luluk.
(dro/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads