Salah satu tambang minyak Blok Cepu yang terletak di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Bojonegoro itu menggunakan lahan sekitar 8 hektar. Sebanyak 7 Hektar adalah milik pribadi warga dan 1 hektar selebihnya adalah tanah kas Desa Ngunut.
"Kami bebaskan lahan milik warga sekitar 7 hektar yang terdiri dari 22 bidang. Jumlah pemiliknya ada 17 orang dan semua mendapat harga Rp 50 ribu per meter," jelas Manager Land Team MCL, Dedy Afidick pada detikFinance, Jumat (2/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan penggunaan lahan 1 hektar berstatus milik kas desa akan dibicarakan lebih lanjut oleh MCL dengan Pemerintah Desa Ngunut. Lantaran tanah tersebut tidak bisa diperjual-belikan sehingga MCL hanya memiliki hak sewa.
"Mengenai tanah kas desa akan kita bicarakan lebih lanjut soal sistim dan harga kontraknya. Perhitungannya dengan asumsi harga setara dengan hasil panen dari lahan itu. Kami tinggal membuat kontraknya tiap beberapa tahun sekali," tambah Dedy.
Tidak dijelaskan kapan Exxon Mobil atau MCL akan mulai mengembangkan sumur Alastuwa Timur. Sebab perusahaan minyak asal Amerika itu akan lebih dulu mengembangkan sumur Jambaran dan Alastuwa Barat di Kecamatan Ngasem, baru
kemudian Alastuwa Barat.
"Kita akan bor dulu sumur Jambaran. Rig (menara bor) akan moving (dipindahkan) dari sumur Banyu Urip ke Jambaran. Secara bersamaan akan kita laksanakan proyek pembuatan jalan untuk Alastuwa Barat," pungkas Dedy Afidick, Manager Land Team MCL.
Disamping sumur Banyu Urip, Jambaran, Alastuwa Barat dan Alastuwa Timur, ada 1 sumur minyak Blok Cepu lagi yang akan dikembangkan oleh Exxon Mobil di Kabupaten Bojonegoro. Yaitu sumur Kedung Keris yang terletak di Desa
Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu.
(bdh/qom)











































