Β
Hal ini dikatakan oleh Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari, di gedung Departemen Perindustrian Jumat (2/5/2008).
Β
"Cukup membanggakan karena untuk skala dibawah 100 MW sudah dibangun oleh industri dalam negeri," katanya.
Β
Ansari menambahkan, untuk pembangunan PLTU batubara skala kecil dan menengah yaitu dibawah 100 MW sudah ditangani di 25 lokasi dengan kapasitas 100 MW oleh EPC nasional. Sepuluh lokasi diantaranya sudah dikontrakan oleh PLN sisanya baru sampai tahap LoI.
Β
Namun kata Ansari kalangan EPC nasional terkendala masalah kenaikan harga baja, karena umumnya PLTU memakai bahan baku baja sebagai struktur kontruksi dan mesin-mesin.
Β
"Masalah kenaikan tergantung dari kapasitasnya, total dari seluruh biaya harga untuk PLTU 7 MW bisa naik 36% sedangkan untuk 100 MW itu naiknya hanya 17%," imbuh Ansari.
Β
Dari total 25 lokasi yang ditangani EPC nasional, total memiliki 1904 MW dengan kebutuhan baja 180 ribu ton, dengan perincian 110 000 ton untuk besi beton dan struktur baja mencapai 70.000 ton.
Β
"Dari Depperin perlu dikaji adanya eskalasi, karena kalau itu sulit dilakukan pelaksanaan PLTU. Mengenai berapa kenaikannya, terutama dari kalangan EPC yang mengajukan eskalasi kepada PLN," serunya.
Β
Beberapa EPC nasional yang beroperasi sekarang antara lain PT Barata, Wijaya Karya, Adikarya dan lain-lain. Meliputi beberapa daerah diluar Jawa seperti PLTU 2 NTB, PLTU 2 Sulawesi, PLTU Gorontalo, PLTU Lampung, PLTU Sumut, PLTU Kep. Riau, PLTU NTT, PLTU Sulteng, PLTU Kalteng, PLTU Aceh dan lain-lain. (hen/qom)











































