Tenang Sebentar, Harga Minyak Memanas Lagi

Tenang Sebentar, Harga Minyak Memanas Lagi

- detikFinance
Sabtu, 03 Mei 2008 11:57 WIB
Tenang Sebentar, Harga Minyak Memanas Lagi
New York - Harga minyak mentah dunia yang sempat adem hingga US$ 112 per barel, kembali memanas setelah adanya berita pasukan Turki telah menyerang pemberontak Kurdi di Irak. Hal itu kembali memberikan kecemasan soal adanya gangguan suplai.

Pada perdagangan Jumat (2/5/2008) di New York, kontrak utama untuk minyak jenis light pengiriman Juni kembali melonjak hingga 3,80 dolar menjadi US$ 116,32 per barel. Di London, minyak jenis Brent juga meloncat hingga 4,06 dolar menjadi US$ 114,56 per barel

Harga minyak mentah sangat bergejolak sepanjang minggu ini. Jika pada Senin hampir menyentuh US$ 120 per barel, harga sempat surut hingga US$ 112 per barel pada Kamis seiring menguatnya dolar AS. Namun pada akhir pekan, harga minyak akhirnya mengamuk lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lonjakan harga terjadi setelah munculnya berita serangan dari Turki yang dikhawatirkan bisa mengganggu stabilitas suplai di Timur Tengah. Pasukan Turki sebelumnya mengklaim bahwa banyak pemberontak Kurdi yang tewas akibat pengeboman di Iran bagian Utara itu, meski tidak ada detailnya.

Kondisi itu diperberat dengan keluarnya data pengangguran AS untuk April. Pemerintah mengumumkan selama April ada pengurangan tenaga kerja hingga 20.000, atau jauh dibawah rata-rata asumsi pasar yang memperkirakan angka 75.000. Sementara tingkat pengangguran juga turun menjadi 5%.

Dengan hasil data ketenagakerjaan yang lebih baik itu menunjukkan bahwa meski perekonomian AS menderita, namun tidak dalam posisi krisis. Dengan demikian permintaan energi di negara konsumen terbesar itu diperkirakan masih akan tinggi.

Dengan kondisi permintaan dan penawaran yang masih ketat, para analis memperkirakan rekor tertinggi harga minyak akan kembali tertembus.

"Meski banyak prognosa yang menggunakan penurunan tajam selama pekan ini sebagai indikatif harga sebagaimana yang mereka lakukan pada pertengahan Maret, namun kami lebih cenderung untuk melihat ini sebagai koreksi yang akan diikuti dengan rekor tertinggi baru dalam periode sekitar 1 bulan," ujar Jim Rittersbusch, Presiden Ritterbusch & Associates seperti dikutip dari AFP, Sabtu (3/5/2008).

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads