Pada perdagangan Jumat (2/5/2008) di New York, kontrak utama untuk minyak jenis light pengiriman Juni kembali melonjak hingga 3,80 dolar menjadi US$ 116,32 per barel. Di London, minyak jenis Brent juga meloncat hingga 4,06 dolar menjadi US$ 114,56 per barel
Harga minyak mentah sangat bergejolak sepanjang minggu ini. Jika pada Senin hampir menyentuh US$ 120 per barel, harga sempat surut hingga US$ 112 per barel pada Kamis seiring menguatnya dolar AS. Namun pada akhir pekan, harga minyak akhirnya mengamuk lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu diperberat dengan keluarnya data pengangguran AS untuk April. Pemerintah mengumumkan selama April ada pengurangan tenaga kerja hingga 20.000, atau jauh dibawah rata-rata asumsi pasar yang memperkirakan angka 75.000. Sementara tingkat pengangguran juga turun menjadi 5%.
Dengan hasil data ketenagakerjaan yang lebih baik itu menunjukkan bahwa meski perekonomian AS menderita, namun tidak dalam posisi krisis. Dengan demikian permintaan energi di negara konsumen terbesar itu diperkirakan masih akan tinggi.
Dengan kondisi permintaan dan penawaran yang masih ketat, para analis memperkirakan rekor tertinggi harga minyak akan kembali tertembus.
"Meski banyak prognosa yang menggunakan penurunan tajam selama pekan ini sebagai indikatif harga sebagaimana yang mereka lakukan pada pertengahan Maret, namun kami lebih cenderung untuk melihat ini sebagai koreksi yang akan diikuti dengan rekor tertinggi baru dalam periode sekitar 1 bulan," ujar Jim Rittersbusch, Presiden Ritterbusch & Associates seperti dikutip dari AFP, Sabtu (3/5/2008).
(qom/qom)











































