China, Jepang dan Korea Selatan akan menyediakan hampir 80 persen dari kebutuhan dana itu, sisanya dikumpulkan dari 10 anggota Asean. Demikian salah satu isi pernyataan bersama pertemuan tahunan Bank Pembangunan Asia (ADB) di Madrid, Spanyol seperti dikutip AFP, Senin (5/5/2008).
Ke-13 negara itu adalah China, Jepang, Korea Selatan ditambah 10 negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada pertemuan ADB tahun lalu di Jepang pada Mei 2007, negara-negara Asia sepakat untuk menyisihkan cadangan devisa mereka untuk membentuk cadangan devisa multinasional yang bisa digunakan oleh negara anggota yang tengah mengalami krisis keuangan. Saat itu jumlah dananya belum ditentukan, namun kini negara Asia sepakat untuk mengumpulkan dananya hingga US$ 80 miliar.
"Kami berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama kami di semua lini," ujar pernyataan bersama itu.
Menteri Keuangan Vietnam Vu Van Ninh, yang juga wakil ketua pertemuan ADB kali ini mengatakan ADB akan berupaya untuk memonitor dana itu.
"Kami pikir adanya sistem pengawasan yang ketat sangat penting, terutama sekarang ekonomi regional telah menjadi bagian penting dan terintegrasi dengan ekonomi dunia," ujarnya.
Selama tahun 1997-1998, Indonesia, Thailand dan Korea Selatan telah meminjam dana yang besar kepada IMF senilai hampir US$ 100 miliar untuk membantu keuangan negara yang tengah mengalami krisis. Negara-negara itu 'dipaksa' IMF untuk melakukan kebijakan yang tidak populer seperti memotong belanja anggaran, menjual BUMN dan menaikkan suku bunga.
Kini negara Asia mengalami tantangan baru yakni peningkatan harga komoditas energi dan pangan dan juga krisis keuangan global.
ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan mencapai 7,6 persen di 2008, yang merupakan level pertumbuhan paling rendah dalam 5 tahun terakhir. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi di Asia mencapai 8,7 persen.
Inflasi yang tinggi juga mengancam Asia dengan adanya kenaikan komoditas pangan dan minyak itu. Inflasi diperkirakan akan mencapai 5,1 persen, tertinggi sejak krisis 1997-1998 lalu.
(ddn/qom)










































