Laju Ekonomi RI Melambat

Triwulan I-2008

Laju Ekonomi RI Melambat

- detikFinance
Senin, 05 Mei 2008 13:08 WIB
Laju Ekonomi RI Melambat
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan I-2008 mencapai 6,1% atau melambat dari triwulan sebelumnya yang mencapai 6,3%. Untuk sepanjang 2008, perekonomian RI diprediksi tumbuh 6,2% atau melambat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara harga-harga terus bergerak naik selama triwulan I-2008, yang tercermin dari laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 8,17% secara year on year.

BI dalam 'Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I-2008' yang dikutip Senin (5/5/2008) juga memandang perekonomian Indonesia ke depan masih menghadapi tentangan di tengah ketidakpastian perekonomian global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan yang bersumber dari faktor eksternal akan memberikan tekanan yang cukup berat pada stabilitas makroekonomi dalam negeri. Tekanan inflasi juga masih cukup tinggi, dan semakin memperperat capaian sasaran inflasi.

Dalam pertumbuhan ekonomi RI, permintaan domestik berupa konsumsi rumah tangga dan investasi akan semakin berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Sementara peranan ekspor akan semakin berkurang sebagai konsekuensi dari kondisi global yang kurang kondusif.

Inflasi akan menjadi tantangan eksternal yang bisa memberikan tekanan berat pada stabiliras makro ekonomi dalam negeri. BI akan mencermati perkembangan aktivitas ekonomi dan inflasi, termasuk sumber-sumber inflasi untuk ke depannya. Kebijakan moneter akan diarahkan untuk menciptakan stabilitas makro ekonomi guna mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi melalui Inflation Targeting Framework (ITF).

Sementara di bidang perbankan, BI akan melanjutkan program konsolidasi untuk mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan kompetitif. Upaya peningkatan fungsi intermediasi perbankan juga akan terus dilakukan BI untuk dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan bagi dunia usaha secara efektif.

Untuk pertumbuhan ekonomi global, BI memperkirakan sebesar 4,1% di 2008, atau melembat dari sebelumnya sebesar 4,9%. Perlambatan ekonomi dunia terutama terjadi dinegara maju sebagai dampak dari krisis subprime mortgage di AS yang berkepanjangan.

Sementara itu, dampak lanjutan krisis subprime mortgage di AS terhadap negara-negara berkembang, khususnya Asia, masih akan ditransmisikan dengan relatif kuat melalui transaksi finansial. Di sisi lain, transmisi melalui transaksi perdagangan relatif dapat ditahan dengan pola perdagangan intraregional Asia yang meningkat. Secara keseluruhan, hal-hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan masih cenderung menurun.

Kegiatan konsumsi pemerintah pada tahun 2008 diperkirakan masih akan tumbuh, namun dengan laju yang melambat. Walaupun defisit mengalami kenaikan cukup signifikan, namun kontribusi langsung sektor fiskal pada sektor riil melambat karena meningkatnya alokasi untuk subsidi.

Perlambatan konsumsi terjadi baik pada konsumsi pemerintahpusat maupun konsumsi pemerintah daerah seiring melambatnya pertumbuhan belanja pegawai, belanja barang, dan Dana Alokasi Umum (DAU).

Kegiatan investasi pada tahun 2008 diprakirakan tumbuh sedikit lebih tinggi. Perbaikan iklim investasi diperkirakan akan mendorong akselerasi pertumbuhan investasi pada tahun 2008. Stimulus fiskal dalam bentuk investasi pemerintah juga masih berperan dalam meningkatkan investasi pada tahun 2008 meskipun dengan pertumbuhan yang melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu, investasi swasta diprakirakan lebih berperan dalam mendorong investasi. Berdasarkan jenis investasi, investasi bangunan diprakirakan tumbuh tinggi pada 2008 yang didorong oleh pembangunan berbagai proyek infrastruktur yang dijalankan oleh pemerintah ataupun swasta.

Salah satu proyek infrastruktur terbesar adalah pembangunan jalan tol. Ke depan, meskipun pelaksanaan proyek-proyek dimaksud diprakirakan terlambat dari jadwal semula dengan usaha-usaha Pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan di lapangan, terutama proses pembebasan tanah, investasi bangunan diproyeksikan meningkat.

(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads