BBM Naik, Pekerja Makin Nombok

BBM Naik, Pekerja Makin Nombok

- detikFinance
Selasa, 06 Mei 2008 09:22 WIB
BBM Naik, Pekerja Makin Nombok
Jakarta - Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi akan memperparah tingkat tombok kebutuhan terhadap penghasilan masyarakat.

Hasil survei yang dilakukan oleh Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) mengenai Indeks daya beli pekerja (IDBP) menunjukan bahwa para pekerja secara nasional triwulan I mengalami tingkat tombok 51% dari asumsi UMR terhadap kebutuhan dari penghasilan impas. Sehingga dengan adanya kenaikan harga BBM maka tingkat tombok pekerja diperkirakan akan semakin membengkak.

Demikian disampaikan oleh Presiden OPSI Yanuar Rizky kepada detikFinance, Selasa (6/5/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang ini tingkat tombok yang berkeluarga saja 51%, kalau lajang bisa surplus 10%. Kalau terjadi kenaikan BBM 10% saja maka bisa nombok 75%, apalagi kalau naik 28,7%," kata Yanuar.

Dari survei itu secara nasional menunjukan untuk lajang dengan mengontrak rumah untuk mendapatkan pendapatan impas diperlukan minimal Rp 1,82 juta dari asumsi UMR Rp 920 ribu. Untuk lajang dengan mencicil rumah diperlukan penghasilan minimal Rp 1,41 juta, berkeluarga kontrak rumah diperlukan Rp 3,27 juta dari asumsi UMR Rp 2,3 juta dan berkeluarga dengan mencicil rumah diperlukan Rp 3,1 juta.

Survei ini dilakukan di empat kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan mencakup 250 responden disetiap kota dengan total responden 1.000 orang, strata upah antara Rp 1-3 juta, disemua sektor dunia kerja.

Dari 1.000 responden yang ada ternyata terdapat 600 responden yang mengalami tingkat tombok rata-rata hingga minus Rp 1,573 juta per bulan. Dari nombok tersebut rata-rata responden mengatasi kekurangannya dengan memanfaatkan kartu kredit, utang di koperasi karyawan, utang keluarga dan kombinasi ketiganya.

Sedangkan bagi responden yang mengalami surplus lebih banyak disimpan dalam jenis tabungan biasa, selebihnya dalam jumlah yang kecil disimpan di deposito dan reksa dana.

"BBM itu dampaknya hanya dua hal yaitu transportasi dan pangan, kalau BBM naik maka sekarang saja sudah nombok, sekarang rata-rata nasional sudah nombok. Untuk mengatasinya memakai kartu kredit dan lain-lain sebenarnya ini baru kebutuhan inti," ungkapnya.

Menurut Yanuar, untuk kebutuhan transportasi bisa menggerus pendapatan mencapai 29% dari rata-rata upah untuk lajang, sedangkan bagi yang  berkeluarga bisa mencapai 45%. Untuk kebutuhan pangan mencapai 60%, termasuk kebutuhan pangan dikantor yang mencapai 30%. "Jadi untuk pangan dan transpor saja, sudah nombok 10%," kata Yanuar. (hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads