RI Mestinya Sudah Cabut dari OPEC Sejak Tahun 2000

RI Mestinya Sudah Cabut dari OPEC Sejak Tahun 2000

- detikFinance
Selasa, 06 Mei 2008 13:53 WIB
RI Mestinya Sudah Cabut dari OPEC Sejak Tahun 2000
Jakarta - Rencana Indonesia untuk keluar dari keanggotaan OPEC dinilai sudah sewajarnya. Malahan, jika melihat kondisi impor-ekspor minyak Indonesia belakangan ini, seharusnya Indonesia sudah 'cabut' dari OPEC sejak awal tahun 2000-an.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menanggapi pernyataan Presiden SBY tentang rencana Indonesia untuk keluar dari OPEC terkait jumlah impor BBM RI yang cukup besar.

"Dengan pola ekspor-impor Indonesia yang ada sejak awal tahun 2000-an, memang sudah sewajarnya Indonesia bukan lagi masuk sebagai anggota OPEC," katanya ketika dihubungi detikFinance. Selasa (6/5/2008).

Produksi rata-rata minyak mentah Indonesia saat ini masih dibawah 1 juta barel per hari. Sementara konsumsi BBM sudah mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Dengan kondisi ini, volume impor minyak Indonesia menjadi lebih besar ketimbang minyak yang diekspor. Sehingga banyak kalangan menyebut Indonesia sudah sebagai 'net importer oil'.

Lebih lanjut Pri Agung menuturkan, sekalipun Indonesia benar-benar keluar dari keanggotaan OPEC, sebenarnya tidak akan berdampak signifikan. Karena selama ini Indonesia dinilai kurang bisa mengoptimalkan keuntungan-keuntungan sebagai anggota OPEC.

Keuntungan menjadi anggota OPEC seharusnya antara lain mendapatkan minyak dengan harga murah dari sesama anggota OPEC.

"Tidak akan berdampak apa-apa karena selama inipun Indonesia mengimpor crude dan produknya justru dari negara-negara lain diluar OPEC. Dengan kata lain selama jadi anggota OPEC pun Indonesia tidak bisa mengoptimalkan posisinya, untuk bisa mengimpor dengan harga murah misalnya," katanya.

Selain itu, meski menjadi anggota OPEC, Indonesia juga dinilai tidak mempunyai pengaruh untuk mengendalikan harga minyak dunia.

"Jadi, praktis tidak ada kerugian yang berarti dengan keluar dari OPEC. Justru sisi positifnya adalah negara-negara lain, OPEC khususnya, akan lebih respect," jelasnya.

(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads