PLN memperoleh pinjaman sebesar Rp 7,3 triliun untuk pendanaan proyek 7.000 megawatt. Pinjaman diperoleh dari sejumlah bank lokal.
"Proses tender pinjaman yang masih dibutuhkan PLN sebesar Rp 7,3 triliun sudah selesai, tinggal finalisasi saja. Semuanya bank lokal," ungkap Wakil Dirut PLN, Rudiantara, saat dihubungi detikFinance, Rabu (7/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total pendanaan yang dibutuhkan untuk pengerjaan proyek 7.000 MW sebesar Rp 13 triliun dan US$ 3,5 miliar.
Beberapa waktu yang lalu, PLN telah menandatangani pinjaman sebesar Rp 5,7 triliun dari beberapa bank lokal. Jadi pendanaan dalam mata uang rupiah yang masih dibutuhkan sebesar Rp 7,3 triliun.
"Dengan selesainya proses tender, boleh dibilang semua pendanaan rupiah sudah terpenuhi, tinggal menunggu eksekusinya saja," ujarnya.
Sementara untuk pendanaan dalam mata uang asing sebesar US$ 3,5 miliar, hingga saat masih dalam proses pengkajian. Opsinya adalah penerbitan obligasi dolar, sukuk dan pinjaman institusi.
"Opsi-opsi tersebut masih kita exercise. Tapi kalau untuk obligasi dolar atau sukuk yang jelas tidak dalam waktu dekat, karena kondisi pasar keuangan sedang kurang baik. Namun tetap diusahakan tahun ini setelah pasar membaik," ulas Rudiantara.
(dro/ddn)










































