Harga Minyak Bisa Tembus US$ 200 dalam 6 Bulan

Harga Minyak Bisa Tembus US$ 200 dalam 6 Bulan

- detikFinance
Kamis, 08 Mei 2008 07:31 WIB
Harga Minyak Bisa Tembus US$ 200 dalam 6 Bulan
New York - Harga minyak mentah diprediksi bisa menembus US$ 200 per barel dalam 6 bulan ini akibat ketatnya pasokan minyak karena tingginya permintaan.

Goldman Sachs memberikan peringatan tersebut karena harga minyak kini makin sulit dikendalikan, setelah harga minyak di New York tembus US$ 123 per barel untuk pertama kalinya.

Analis energi Goldman Sachs Argun Murti mengatakan, permintaan minyak yang terus meningkat akan makin memperuncing harga dan bisa melewati US$ 200 per barel dalam enam bulan selanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir BBCNews, Kamis (8/5/2008), harga minyak saat ini telah naik 25% dalam empat bulan terakhir atau melonjak 400% sejak tahun 2001.

Sementara pada penutupan perdagangan Rabu waktu AS (7/5/2008), harga minyak di New York untuk jenis light sweet pengiriman Juni sempat menembus US$ 123,93 per barel, sebelum akhirnya ditutup di posisi US$ 123,53 per barel atau naik US$ 1,69.

Sedangkan harga minyak di London jenis Brent North Sea pengiriman Juni naik US$ 2,01 menjadi US$ 122,32 per barel. Harga minyak di London hari itu sempat menembus US$ 123,53.

Dengan gejolak harga yang begitu cepat, Murti mengoreksi prediksinya 3 tahun lalu ketika harga minyak masih di level US$ 55 per barel. Ketika itu Murti memprediksi pergerakan harga minyak hanya sampai ke US$ 100 per barel.

Meningkatnya permintaan minyak global ini masih dipimpin China yang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, disusul oleh India yang juga terus melakukan ekspansi ekonominya.

Permintaan kedua negara yang tinggi itu harus bersaing dengan permintaan dari AS, Uni Eropa dan Jepang yang juga membutuhkan minyak dalam jumlah besar.

Di sisi lain tingginya permintaan itu tidak diimbangi oleh produksi minyak yang justru mengalami masalah di beberapa negara produsen minyak.         

Seperti produksi di Nigeria yang terus mengalami gangguan karena seringnya terjadi serangan oleh kaum militan yang anti pemerintahan dengan menyerang pipa-pipa minyak. Ekspor minyak di Irak juga mengalami gangguan karena perseturuan kaum Kurdi dengan Turki.

Bukan itu saja, pasar juga mulai berhitung naiknya permintaan minyak di AS memasuki musim panas ini.

Sejumlah ekonom pun telah memperingatkan bahaya tingginya harga minyak yang akan mengancam perekonomian global karena memicu tingginya inflasi.

(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads