Menurut data dari Departemen ESDM, Kamis (8/5/2008), secara berturut-turut harga ICP adalah US$ 92,09 pada Januari, US$ 94,64 pada Februari, US$ 103,11 pada Maret.
ICP merupakan harga patokan minyak mentah dalam APBN. Untuk APBNP 2008, pemerintah menetapkan ICP US$ 95 per barel. ICP bulanan ini mengambil rata-rata dari harga 47 sumur minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila diasumsikan harga minyak ICP sebesar US$ 100/barel, dengan kondisi lifting dan volume BBM subsidi tetap maka subsidi BBM menjadi Rp 138,8 triliun. Apabila diasumsikan volume penjualan premium dan solar masing-masing naik menjadi 18,47 juta KL dan 11,80 juta KL maka dengan asumsi harga ICP US$ 100/barel subsidi akan meningkat menjadi Rp 145 triliun.
ICP juga diprediksi akan terus meningkat menyusul lonjakan harga minyak mentah yang diprediksi menembus US$ 200 per barel dalam 6 bulan mendatang.
Harga minyak di Pasar Singapura hari ini sempat menyentuh level tertingginya hingga mendekati US$ 124 per barel, tepatnya di US$ 123,87 per barel untuk jenis light pengiriman Juni. Namun kontrak ini akhirnya surut ke US$ 123,80 per barel, atau turun tipis dibandingkan penutupan di New York pad US$ 123,53 per barel.
ICP Mei
Sementara itu, Tim harga minyak mentah Indonesia memperkirakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) bulan Mei berkisar antara US$ 106-111 per barel.
Sedangkan harga rata-rata WTI (Nymex) berkisar antara US$ 110-115 per barel dan Brent (IPE) berkisar antara US$ 109-114 per barel.
Sejumlah faktor seperti aksi spekulasi para pelaku futures oil market, terus melemahnya dolar AS terhadap mata uang lain terutama Euro dan masih berlanjutnya masalah geopolitik di sejumlah negara produsen minyak seperti Nigeria, iran dan Iran, masih menjadi penyebab harga minyak terus menguat.
Penyebab lainnya adalah meningkatnya permintaan gasoline terutama di AS sehubungan mulai datangnya musim panas (driving season), terus menurunnya stok gasoline AS dan masih terhentinya produk dan ekspor minyak mentah Nigeria.
Di sisi lain, sejumlah faktor yang diperkirakan dapat memperlemah harga, antara lain melambatnya pertumbuhan perekonomian dunia terutama AS, adanya pemeliharaan berkala kilang-kilang minyak dunia di AS, Eropa dan Asia. Selain itu, IEA memperkirakan permintaan minyak mentah dunia kuartal 2/2008 menurun 1 juta barel per hari dibandingkan kuartal 1/2008.
(qom/ir)











































