Penolakan itu disampaikan Komisaris Utama KS Taufiequrrachman Ruki usai mengikuti presentasi ArcelorMittal di kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (8/5/2008).
"Berapapun penawarannya, sebaiknya KS tidak perlu mengundang investor dari luar maupun swasta nasional. Tapi kalau investasi ayo," ujar mantan Ketua KPK ini saat ditanya mengenai nilai investasi yang ditawarkan Mittal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir Mittal itu bukan perusahaan yang terkenal dengan teknologinya, karena untuk baja itu yang terkenal adalah Jerman," katanya.
KS hingga Mei sudah berhasil meraup laba hingga Rp 411 miliar, dari target Rp 430 miliar. Ruki optimistis laba tahun 2008 bisa mencapai Rp 800 miliar.
Dengan kondisi KS yang saat ini sedang prima, Ruki yakin banyak investor yang bersedia mendanai. Bahkan saat Dirut KS Fawzar Bujang berkunjung ke Jerman, mendapat tawaran pinjaman hingga US$ 200 juta.
Meski demikian, Ruki tetap menilai bahwa Indonesia saat ini masih membutuhkan banyak investasi untuk baja. Indonesia membutuhkan setidaknya 2 pabrik baja baru, dengan kapasitas yang sama dengan KS. BUMN baja itu selama ini hanya bisa memasok 56% kebutuhan nasional, dan sisanya dari impor.
"Investor yang mau investasi silakan, ada lahannya di Indonesia. Banyak yang saya tawarkan tadi. mau join ayo. Nanti saya tawarkan ada di Sulawesi, Makassar, Medan, pokoknya masih banyak. Tapi kalau private investment, saya katakan pikirkanlah dulu. Biarkanlah KS berkembang sendiri, karena untuk pendanaan kita masih bisa lewat internal," urainya.
Sementara Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan, Mittal cukup berminat masuk ke Indonesia karena industri baja nasional sangat strategis. Konsumsi baja nasional tercatat 30 kilo per kapita, di Asia itu 300 kilo per kapita dan negara maju 600 kilo per kapita.
Berapa nilainya? "Kata mereka nilai dari proposal 5-10 miliar. Kalau memang itu ada kesepakatan, berarti mereka bisa bekerjasama dengan KS dan juga Antam," ungkapnya.
Kehadiran Mittal
Mengenai kedatangan ArcelorMittal, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan, mereka baru sebatas memperkenalkan diri dan menawarkan proposal. Belum ada hal yang baru, jika dilihat dari kedatangan mereka sebelumnya.
"Sama aja kayak dulu. Mereka ingin membeli saham minoritas di KS. Lalu kerjasama pengembangan industri dengan KS untuk pengembangan kapitalisasi industri. Wilayahnya nanti mereka bicarakan lebih lanjut tentang KS," katanya.
"Lalu juga kerjasama dengan Antam untuk pembangunan tambang. Jadi pertemuan ini baru formal saja ke saya, dan juga ke manajemen KS dan Antam. Dan saya pikir itu perlu diskusi lebih lanjut. Nanti kita lihat apakah ada kesepakatan," imbuh Sofyan
Ruki mengaku Menneg BUMN meminta pihaknya berdiskusi lagi dengan Mittal.
"Pak menteri meminta mereka untuk diskusi lebih dalam dengna KS dan Antam. Saya bersedia untukberbicara dengan Mittal, apa yang bisa kita lakukan bersama, tapi bukan berapa saham yang akan kita jual," ketusnya.
(qom/ddn)











































