KS Dijual, Dephan Cemas Industri Senjata Terganggu

KS Dijual, Dephan Cemas Industri Senjata Terganggu

- detikFinance
Jumat, 09 Mei 2008 10:16 WIB
KS Dijual, Dephan Cemas Industri Senjata Terganggu
Jakarta - Departemen Pertahanan mengkhawatirkan rencana penjualan PT Krakatau Steel kepada pihak asing akan mengganggu keamanan produksi senjata Indonesia.

Dephan dikabarkan sudah mengirim surat kepada Menneg BUMN dengan tembusan kepada Presiden SBY untuk menanyakan apakah kesinambungan suplai bahan baku untuk industri senjata di Indonesia oleh Krakatau Steel dapat terjaga dengan penjualan tersebut.

Komisaris Utama Krakatau Steel Taufiequrrachman Ruki mengakui, Dephan memang menanyakan apakah kesinambungan suplai Krakatau Steel untuk industri senjata di Indonesia dapat terjaga jika dijual kepada asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami selama ini siap berproduksi dan delivering ke Pindad untuk mendukung pembuatan panser-panser di Pindad yang bahan baku bajanya anti peluru, kita memang mempunyai teknik khusus dan special treatment untuk membuat baja anti peluru ini, dan itu rahasia," tandasnya ketika ditemui di kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda, Jakarta, Kamis (8/5/2008).

Dikatakannya, sebenarnya Krakatau Steel sanggup untuk mensuplai beberapa komponen peralatan alutsista untuk industri senjata di Indonesia. "Nah Dephan bertanya apakah kesinambungan ini bisa terjaga kalau Krakatau Steel dijual," ujarnya.

Dephan sendiri memang menyatakan Krakatau Steel adalah salah satu industri strategis yang harus dipertahankan pemerintah karena selama ini memasok bahan baku baja untuk pertahanan nasional.

Manajemen Krakatau Steel sendiri sampai saat ini tetap menolak opsi penjualan kepada investor melalui mekanisme strategic sales.

Sementara mengenai penawaran yang diberikan oleh kedua calon investor asing yang tertarik yaitu ArcelorMittal dan BlueScope, sumber detikFinance di pemerintahan yang ikut hadir dalam rapat kedua investor tersebut dengan Menneg BUMN Sofyan Djalil, mengatakan presentasi dari Mittal dinilai tidak fokus.

"Dari proposal yang diberikan, mereka hanya mengutarakan diri mereka sendiri, hanya 1 halaman saja yang mengatakan ketertarikannya kepada Krakatau Steel," ujar sumber tersebut.

Selain itu dikatakannya, BlueScope dinilai lebih luwes dalam melakukan diskusi mengenai ketertarikannya kepada Krakatau Steel. "BlueScope itu tidak memaksakan suatu opsi tertentu untuk Krakatau Steel, mereka cukup luwes," ujarnya.

Memang dari pantauan detikFinance pada presentasi yang dilakukan kedua calon investor, usai menyampaikan proposalnya perwakilan Mittal enggan berbicara dengan wartawan yang lama menunggu. Sementara BlueScope yang diwakili oleh Chief Financial Officer-nya Charlie Elias dengan elegan menyampaikan maksud dan tujuannya kepada wartawan yang hadir usai bertemu Menneg BUMN. (dnl/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads